378 Warga di Kawasan Debu Kapur KBB Suspek TBC, Dinkes Tunggu TCM

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan KBB Lia N Sukandar saat ditemui di Ngamprah. Dok Jabar Ekspres/Su
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan KBB Lia N Sukandar saat ditemui di Ngamprah. Dok Jabar Ekspres/Suwitno
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat (KBB) masih menunggu pemeriksaan lanjutan terhadap 378 warga yang terdeteksi suspek tuberkulosis (TBC) dari hasil pemeriksaan kesehatan di kawasan yang terdampak polusi debu pabrik batu kapur.

Temuan tersebut merupakan bagian dari 2.974 kunjungan atau kontak pelayanan pemeriksaan kesehatan paru bagi pekerja dan masyarakat di wilayah sekitar aktivitas industri batu kapur. Dari jumlah itu, sebanyak 2.870 orang atau sekitar 96,5 persen tercatat telah mengikuti CKG.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan KBB Lia N Sukandar mengatakan, pemeriksaan dilakukan dengan dukungan mobil X-ray dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan melibatkan empat fasilitas pelayanan kesehatan, yakni Puskesmas Sumur Bandung, JM Mekar, Puskesmas Tagung Apu dan Puskesmas Cipatat.

Baca Juga:Begini Kronologis Penyiksaan Handi di Sumedang, Korban Sempat Disekap di Sekre FKPPI Eduwisata Dikembangkan di Kebun Raya Bogor, Pengunjung Belajar soal Tumbuhan

“Yang 378 orang itu statusnya masih suspek. Jadi belum bisa kita katakan positif TBC karena masih harus dilakukan pemeriksaan lanjutan menggunakan TCM,” kata Lia di Ngamprah, Kamis (13/8/2026).

Selain suspek TBC, pemeriksaan di kawasan terdampak debu aktivitas pabrik batu kapur tersebut juga menemukan 267 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Sejumlah warga lainnya tercatat mengalami batuk, suspek penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), hipertensi hingga diabetes.

Lia menegaskan, berbagai temuan kesehatan tersebut belum dapat langsung dikaitkan dengan paparan debu dari aktivitas industri batu kapur. Dinkes KBB masih membutuhkan pemeriksaan dan kajian lebih lanjut untuk mengetahui faktor yang berpengaruh terhadap kondisi kesehatan warga.

“Kalau ditanya apakah karena pabrik, bisa iya dan bisa tidak. Kita belum bisa menyimpulkan seperti itu karena harus melihat berbagai faktor, termasuk riwayat paparan dan kondisi kesehatan masing-masing,” ujarnya.

Menurut Lia, aktivitas sejumlah pabrik di kawasan tersebut sudah berlangsung cukup lama. Kondisi itu membuat kemungkinan adanya paparan dalam jangka panjang perlu menjadi perhatian, terutama bagi pekerja yang sehari-hari berada di sekitar kawasan industri.

Namun, khusus untuk temuan suspek TBC, faktor penularan juga perlu diperhatikan. Lia menyebut TBC dapat menular melalui kontak erat, termasuk di lingkungan keluarga apabila terdapat anggota keluarga yang lebih dulu menderita penyakit tersebut.

0 Komentar