Rachmat Irianto, Wajah Manusiawi Persebaya Juara

Rachmat Irianto
Rachmat Irianto/Foto: Dok Persebaya
0 Komentar

Namun, ada satu hal lain yang membuat perayaan Rian terasa berbeda. Ia tidak melupakan Persib.

Rian pernah datang, berjuang, dan tumbuh bersama klub kebanggaan Bobotoh tersebut. Ia pernah merasakan bagaimana rasanya mengangkat trofi dengan seragam Persib.

Maka ketika takdir mempertemukannya dengan mantan klub di partai final, Rian tidak menjadikan kemenangan sebagai alasan untuk menghapus masa lalu. Ia memilih menghargainya.

Baca Juga:Pemkab Tasikmalaya Kebut Perbaikan Jalan, Warga Diminta Ikut Menjaga agar Tak Cepat Rusak193 Warga Tasikmalaya Terima Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya, Anggaran Capai Rp3,86 Miliar

Mulai dari menghampiri Fitrah yang menangis, hingga menepi ketika rekan-rekannya merayakan kemenangan.

Dua momen sederhana, tetapi cukup untuk menggambarkan bagaimana Rian memandang sepak bola.

Ada pertandingan yang harus dimenangkan. Ada klub yang harus diperjuangkan. Tetapi di balik semua itu, ada manusia yang tetap harus dihargai. Mungkin, justru di situlah letak kedewasaan seorang pesepak bola.

Sebab menjadi juara bukan hanya tentang siapa yang mengangkat trofi paling tinggi. Bukan pula tentang siapa yang paling keras merayakan kemenangan.

Menjadi juara juga tentang bagaimana seseorang tetap mampu menghormati mereka yang pernah berjalan bersamanya.

Rachmat Irianto malam itu memakai warna hijau dan merayakan kemenangan Persebaya. Tetapi ia tidak membuang cerita tentang Persib.

Dua tahun bersama Maung Bandung tetap menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk dirinya hingga kembali ke Surabaya.

Baca Juga:Korban Kebakaran Sodonghilir Mulai Terima Bantuan Darurat, Delapan Rumah Rusak BeratGolkar Cianjur Dukung Pemkab Bangun Infrastruktur Merata

Dan ketika akhirnya Persebaya menjadi juara, Rian seperti menemukan satu alasan untuk kembali.

Kembali ke rumah. Kembali kepada klub yang membesarkannya.

Dan mungkin, dalam diamnya malam itu, kembali kepada sosok ayah yang selalu menjadi bagian dari perjalanan tersebut.

Karena itu, ketika pemain lain memilih berlari, melompat, dan mengangkat trofi, Rachmat Irianto justru memilih menepi.

Bukan karena ia tidak bahagia. Justru karena di balik kebahagiaannya sebagai pemain Persebaya, masih ada rasa hormat kepada mereka yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Sebuah sikap kecil di tengah pesta besar. Namun dari sikap kecil itulah, perayaan juara Persebaya terasa jauh lebih manusiawi.(har)

0 Komentar