Stok Rumput Mulai Menipis, Dispernakan KBB Dorong Cadangan Pakan

Peternak Lembang tengah memberi pakan sapi. Dok Jabar Ekspres/Suwitno
Peternak Lembang tengah memberi pakan sapi. Dok Jabar Ekspres/Suwitno
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) Kabupaten Bandung Barat (KBB) mendorong peternak menyiapkan cadangan pakan sebelum stok rumput semakin menipis.

Imbauan tersebut disampaikan Kepala Dispernakan KBB, Wiwin Aprianti, menyusul kemarau berkepanjangan yang mulai menekan ketersediaan hijauan pakan ternak di sejumlah wilayah KBB.

Wiwin mengatakan kondisi tersebut terutama dirasakan peternak ruminansia yang masih mengandalkan rumput segar sebagai sumber utama pakan. Penurunan ketersediaan hijauan juga dapat berdampak terhadap kualitas pakan yang diberikan kepada ternak.

Baca Juga:Cegah Narkoba dari Sekolah, Polsek Tanjungjaya Bekali Pelajar Agar Berani Berkata TidakOmbudsman Bongkar Hunian 'Standar Apartemen' di Lapas Cibinong, Ada Dapur hingga Kulkas

“Kemarau yang berlangsung saat ini mulai berdampak pada ketersediaan hijauan pakan, khususnya bagi peternak yang masih mengandalkan rumput segar. Ketika hijauan berkurang, persoalannya bukan hanya jumlah, tetapi juga kualitas pakan,” ujar Wiwin, Kamis (24/9/2026).

Menurutnya, kemarau mulai memberikan dampak sejak Juni-Juli 2026 dan semakin terasa pada Agustus hingga September. Sejumlah peternak bahkan harus mencari sumber hijauan ke luar wilayah KBB, seperti Subang, Purwakarta, dan Sumedang.

Berdasarkan hasil pemantauan di sejumlah peternak, kata Wiwin, pemberian hijauan pada sebagian ternak selama kemarau panjang dapat berkurang hingga sekitar 50 persen.

Kondisi tersebut membuat sebagian peternak beralih menggunakan jerami padi kering yang memiliki nilai nutrisi lebih rendah dibandingkan rumput segar.

“Tak hanya ketersediaannya yang terbatas, harga sejumlah jenis pakan juga mulai mengalami kenaikan. Harga tebon jagung yang sebelumnya Rp800 per kilogram kini mencapai Rp900 per kilogram. Sementara rumput odot naik dari sekitar Rp750 menjadi Rp900 per kilogram,” jelasnya.

Salah satunya yang dirasakan Kelompok Tani Jaya Siliwangi di Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua, yang mengelola sekitar 70 ekor sapi perah. Menurut Wiwin, pada musim kemarau, produktivitas kebun rumput kelompok tersebut diperkirakan hanya sekitar 30 persen dibandingkan saat musim hujan.

Untuk memenuhi kebutuhan pakan, peternak harus mencari rumput dari luar wilayah dan menggunakan jerami padi kering. Pakan tersebut kemudian dilengkapi dengan ampas tahu serta konsentrat sapi perah.

Baca Juga:Dua Tahun Berjuang Buka C1 Plano, Sengketa Pemilu 2024 Tasikmalaya Kini Masuk Babak Eksekusi PTUNKenal di Rinjani, Lanjut Naik Kerinci, Pasangan Ini Akhirnya Menikah

Wiwin mengatakan peternak perlu mulai menyiapkan cadangan pakan sebelum kondisi semakin sulit. Sumber pakan lokal juga dapat dimanfaatkan dan diolah menjadi pakan awetan agar bisa digunakan saat ketersediaan rumput menurun.

0 Komentar