BANDUNG – Sebanyak 719 siswa baru SMKN 2 Bandung mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) 2026 dengan penuh semangat. Kali ini, panitia menjadikan kegiatan tersebut sebagai momentum utama membentuk karakter siswa sejak hari pertama, sekaligus memperkuat komitmen sekolah untuk menciptakan lingkungan bebas bullying.
Ketua Panitia MPLS SMKN 2 Bandung, Budhi Darmawan S.Pd., menjelaskan bahwa MPLS tahun ini mengusung semangat Pancawaluya sesuai arahan SK Gubernur Jawa Barat. “Kami ingin siswa baru merasa aman dan nyaman, baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah. Semua pihak dilibatkan, mulai dari internal hingga eksternal seperti TNI, Polri, dan Dinas Kesehatan yang sudah aktif mengisi materi,” ujarnya.
Dari total 719 peserta, Budhi mengaku bersyukur karena semuanya hadir lengkap. “Hanya jika ada yang sakit, kami minta melampirkan surat keterangan dokter. Alhamdulillah, antusiasme siswa baru sangat tinggi,” tambahnya.
Baca Juga:Tak Perlu Antre Lama, Klaim BPJS Ketenagakerjaan Kini Bisa Lewat Antrean OnlineHari Anak Nasional, Wanoja PDI Perjuangan Jabar Berbagi Kasih dengan Anak Binaan LPKA Bandung
Menurut Budhi, fokus utama MPLS bukan sekadar pengenalan rutinitas sekolah, melainkan pembentukan karakter dan adab terlebih dahulu. “Ilmu tanpa adab itu sia-sia. Makanya kami didik dulu adab dan etikanya. Setelah itu baru ilmu pengetahuan yang diberikan guru-guru secara maksimal,” katanya.
Adab yang ditekankan mencakup sikap sopan santun, menghindari kata-kata kasar di depan guru maupun teman, serta kedisiplinan tinggi. Sekolah juga menerapkan program 7A yang dicanangkan Gubernur, seperti bangun pagi, beribadah, sarapan, olahraga, hingga kegiatan positif lainnya. Dengan adab yang terbentuk, diharapkan siswa juga lebih disiplin, termasuk dalam hal ketepatan waktu masuk sekolah.
Lebih jauh lagi, Budhi menegaskan komitmen sekolah terhadap pemberantasan bullying. “Kami tidak mentolerir sedikit pun. Ada guru BK yang mengawasi secara ketat. Jika ada indikasi bullying, langsung dilakukan pendekatan personal, mediasi dengan siswa yang bersangkutan, dan melibatkan orang tua sejak awal. Baru kemudian diproses lebih lanjut,” tegasnya.
“Alhamdulillah di SMKN 2 Bandung hingga saat ini belum pernah ada kasus bullying yang berarti. Pengawasannya memang sangat ketat. Bila pun terjadi kasus berat yang tidak bisa ditolerir, ada sanksi tegas setelah melalui proses mediasi bersama orang tua,” jelas Budhi.
