Ekonomi Hijau sebagai Arus Ekonomi Baru

opini
Unggul Yoga Ananta CEO Olahkarsa Group; Ketua Badan Kajian Strategis BPD HIPMI Jawa Barat
0 Komentar

Ketiga dengan sumber daya yang tersedia kita memiliki cadangan mineral transisi kelas dunia, potensi surya hingga ribuan gigawatt, kekayaan keanekaragaman hayati untuk ekonomi berbasis alam (nature-based economy), perdagangan karbon, serta bonus demografi yang masih terbuka hingga awal 2030-an.

Di bawah fondasi makro tersebut, lapisan baru ekonomi riil mulai tumbuh dari sektor kewirausahaan. Di Asia Tenggara, startup teknologi iklim (climate tech) berhasil menghimpun pendanaan ekuitas sekitar 166 juta dolar AS pada tahun 2025. Angka ini naik dari tahun sebelumnya di tengah badai funding winter yang menekan hampir semua sektor lain. Porsi climate tech dalam transaksi modal ventura kawasan pun melonjak tajam dari hanya 3% pada 2019 menjadi hampir 10% pada 2023.

Modal tersebut terkonsentrasi pada sektor-sektor yang sangat dekat dengan kebutuhan domestik kita seperti pengelolaan sampah, ekonomi sirkular, efisiensi energi, dan energi terbarukan. Di dalam negeri, geliatnya kian nyata melalui lahirnya perusahaan rintisan daur ulang, pengembang proyek karbon, agregator minyak jelantah untuk bahan bakar terbarukan, penyedia panel surya atap, hingga platform data emisi. Bidang-bidang ini adalah sektor yang lima tahun lalu nyaris tidak masuk dalam radar investor.

Baca Juga:Layanan JKN Makin Cepat dan Humanis, BPJS Kesehatan Wilayah V Akselerasi Digitalisasi Bareng FaskesBerlayar Menuju Keunggulan: Daya Improvement Forum 2026 Jadi Panggung Inovasi Insan Daya Group

Setiap tenggat regulasi dan tuntutan pasar terbukti melahirkan ceruk industri jasa baru seperti industri jasa pengukuran dan verifikasi emisi, konsultansi pelaporan keberlanjutan, independent assurance, pelatihan keterampilan hijau (green skills), hingga jasa keterlacakan (traceability) rantai pasok.

Ini adalah pola klasik dari sebuah arus ekonomi baru. Sebagaimana era digital yang tidak hanya melahirkan raksasa teknologi tetapi juga ekosistem jasa di sekitarnya, ekonomi hijau juga menempuh jalur yang sama: dari kewajiban lahir permintaan, dari permintaan lahir industri, dan dari industri lahir lapangan kerja baru.

Namun terdapat catatan kritis mengenai ini, dari sekitar 1,1 miliar dolar AS pendanaan climate tech di Asia Tenggara dalam delapan tahun terakhir, mayoritas masih mengalir ke Singapura sebagai hub utama. Indonesia sering kali hanya menjadi pasar dan lokasi dampak, tetapi belum menjadi rumah bagi modal dan kekayaan intelektualnya. Kesenjangan inilah yang harus menjadi target kebijakan konkret pemerintah, bukan sekadar bahan keprihatinan.

0 Komentar