B50 Pangkas Impor Minyak Jadi 700 Ribu Barel per Hari, Benarkah?

B50 Pangkas Impor Minyak Jadi 700 Ribu Barel per Hari, Benarkah?
Ilustrasi stasiun pengisian bahan bakar biodiesel 50 persen atau B50. Dok. Magnific
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Penerapan bioetanol 50 persen atau B50 pada bahan bakar minyak (BBM) jenis solar, diklaim mampu menguarangi ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak.

Impor minyak yang semula di kisaran 1 juta barel per hari, kini menjadi 700-750 ribu barel per hari. Itu disampaikan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam acara pembukaan Global Hydrogen Ecosystem Summit & Exhibition 2026 yang digelar di Jakarta, Selasa.

“Kita konversi (penerapan) B50 itu, kita mampu memotong impor kita itu hampir 250–300 ribu barel per hari,” ujarnya, dikutip Rabu (22/7/2026).

Baca Juga:BBM B50 Bisa Bantu Rupiah dan Neraca Perdagangan Tanpa Bebani APBN, Benarkah?BBM B50 Siap Diterapkan di Semua Sektor, Benarkah?

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) itu menuturkan bahwa, Indonesia mengonsumsi sekitar 1,6 juta barel BBM setiap harinya.

Sementara itu, lifting minyak Indonesia hanya berada di kisaran 600-615 ribu barel per hari. Dengan begitu, untuk memenuhi konsumsi harian, Indonesia memerlukan impor minyak sebesar 1 juta barel per hari.

“Maka kemudian, perlahan-lahan kita geser dari fosil ke energi alternatif. Kemarin kita lakukan peresmian B50,” cetusnya.

Bahlil menjelaskan konsumsi solar atau bahan bakar diesel di Indonesia berada di kisaran 39 juta KL per tahun. Dengan memakai B50, Indonesia memangkas impor minyak kurang lebih sekitar 250 ribu–300 ribu barel per hari.

“Jadi sekarang, impor minyak total itu masih ada kurang lebih sekitar 700–750 ribu barel per hari, dari selisih 1 juta barel itu,” kata Bahlil.

Presiden Prabowo Subianto menyatakan Indonesia mulai menghentikan impor solar sejak Juli 2026 seiring keberhasilan pemerintah mengembangkan bahan bakar diesel berbasis minyak sawit B50 sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian energi nasional.

Prabowo mengatakan Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang mampu memproduksi B50, yakni solar dengan campuran 50 persen biodiesel berbahan baku kelapa sawit.

Baca Juga:Implementasi B50 Dinilai Berpotensi Menaikkan Biaya Perawatan Mesin, Meski Perkuat Ketahanan EnergiBahan Bakar B50 Berlaku di Semua Sektor Mulai 1 Juli 2026

Menurutnya, penghentian impor solar akan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat. Sebab, anggaran yang sebelumnya digunakan untuk membeli bahan bakar dari luar negeri kini dapat berputar di dalam negeri.

Selain implementasi B50, pemerintah juga mulai mengembangkan bensin campuran etanol 10 persen (E10) sebagai langkah awal menuju penggunaan bioetanol yang lebih luas.

0 Komentar