Masih Dianggap Susu, Kental Manis Dinilai Berisiko Ganggu Gizi Anak

Masih Dianggap Susu, Kental Manis Dinilai Berisiko Ganggu Gizi Anak
Pengurus Pusat (PP) Muslimat NU bersama Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) dan Dinas Kesehatan KBB mengajak masyarakat meluruskan pemahaman mengenai penggunaan kental manis agar tidak lagi dijadikan pengganti susu. Selasa (21/7). Dok Jabar Ekspres/Suwitno
0 Komentar

Berdasarkan hasil survei Universitas Islam Bandung (Unisba), sekitar 67,7 persen masyarakat Indonesia masih menganggap kental manis sebagai susu. Sementara di Jawa Barat, tingkat kesalahan persepsi tersebut mencapai sekitar 24 hingga 25 persen sehingga menjadi salah satu wilayah prioritas edukasi.

“Kami berharap kader-kader Muslimat NU dapat menjadi agen edukasi di keluarga dan lingkungannya sehingga pemahaman yang benar dapat menyebar secara berantai,” ujar Satria.

Ia menjelaskan, persepsi yang keliru mengenai kental manis berlangsung lebih dari 100 tahun. Warna, aroma, dan rasanya yang menyerupai susu membuat sebagian orang tua masih menjadikannya sebagai minuman utama bagi anak.

Baca Juga:Impor Susu Masih 80 Persen, Mentan Buka Peluang Besar bagi Investor Peternakan Sapi PerahBapanas Ajak Pemda untuk Jaga Harga Pangan Tetap Stabil

Padahal, hasil riset YAICI menunjukkan anak yang mengonsumsi kental manis secara tidak tepat memiliki indikasi lebih berisiko mengalami overweight, stunting maupun gizi buruk.

“Akan tetapi temuan itu masih memerlukan penelitian longitudinal untuk memastikan hubungan sebab akibat,” katanya.

Di sisi lain, Plt Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat, Enung Masruroh, menegaskan kental manis bukanlah susu murni karena sekitar 40 hingga 60 persen kandungannya merupakan gula.

“Kental manis tetap dapat dikonsumsi, tetapi penggunaannya harus sesuai peruntukan, seperti misalnya sebagai pelengkap atau topping makanan, bukan sebagai sumber utama asupan susu bagi anak,” katanya.

Enung juga mengingatkan bahwa konsumsi gula berlebihan dapat meningkatkan risiko diabetes serta memicu meningkatnya kasus obesitas pada anak dan remaja.

“Boleh dikonsumsi, tetapi jangan dianggap sebagai susu murni. Kalau setiap hari diminum anak sebagai susu, tentu asupan gulanya akan berlebihan. Sebaiknya digunakan sebagai pelengkap makanan, bukan sebagai pengganti susu,” pungkas Enung. (Wit)

0 Komentar