Penerapan Harga Saham Rp1 Bukan Pemicu Anjloknya IHSG, Benarkah?

Penerapan Harga Saham Rp1 Bukan Pemicu Anjloknya IHSG, Benarkah?
Ilustrasi grafik IHSG yang menunjukkan penurunan signifikan. Dok. Pexels
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Penerapan harga saham terendah semula Rp50 menjadi Rp1, diyakini bukan pengaruh utama yang menyebabkan anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin.

Hal itu diungkapkan Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik saat ditemui wartawan di Gedung BEI, Jakarta, Senin.

Menurutnya, bobot saham-saham yang sebelumnya menetap di harga Rp50 terhadap IHSG relatif kecil, sehingga penurunannya tidak secara signifikan mempengaruhi indeks.

Baca Juga:Tahan BI-Rate, Ekonom Yakini Sektor Riil Tetap BerjalanMenkraf Dorong Penguatan Ekonomi Kreatif Berbasis Digital Lewat Kompetisi Teknisi

“Jadi tidak semata-mata karena faktor penurunan di bawah harga Rp50 yang memberikan pressure kepada IHSG,” ujarnya, mengutip ANTARA, Selasa (29/9/2026).

Melihat sejumlah harga saham yang bertahun-tahun tertahan di angka Rp50 tanpa adanya transaksi, Jeffrey menyebut bahwa harga Rp50 tidak otomatis mencerminkan nilai wajar (fair value) dari saham-saham tersebut.

Untuk itu, dengan penghapusan batas harga saham terendah Rp50, ia meyakini saham-saham tersebut akan memiliki ruang lebih untuk bergerak menemukan harga wajarnya melalui mekanisme pasar.

Kendati begitu, ia juga menyadari bahwa proses penemuan harga wajar tersebut membutuhkan waktu. Itu mengingat pergerakan saham yang tetap mengikuti mekanisme perdagangan, termasuk ketentuan auto rejection.

Dalam kesempatan ini, Jeffrey mengungkapkan terdapat 69 saham yang diperdagangkan di bawah level Rp50 p​​​​​ada hari pertama kebijakan tersebut diterapkan pada Senin (28/9).

“Yang ada di harga Rp50 itu ada yang sudah bertahun-tahun di harga Rp50 tanpa ada transaksi. Artinya memang kesepakatan dari pelaku, dari investor yang mungkin memang fair value-nya tidak di Rp50 dan saat ini sedang mencari fair value-nya,” ujar Jeffrey

Meski demikian, ia menegaskan kontribusi saham-saham tersebut terhadap IHSG tidak besar, yang mana terdapat sekitar 20 saham yang sebelumnya berada di level Rp50, kemudian bertambah oleh saham dari Papan Pemantauan Khusus yang diperdagangkan di bawah Rp50.

Baca Juga:SOR Kaliki Bersiap Dilanjutkan Usai Mangkrak Sejak 20214, Anggaran Disiapkan Rp72 MiliarLongsor Tengah Malam di Salawu Tasikmalaya Putus Saluran Irigasi Cibiuk, Tagana Ingatkan Zona Rawan

Jeffrey menilai pelaksanaan kebijakan tersebut pada hari pertama berjalan baik, mulai dari tahap pre-opening, pembukaan pasar hingga perdagangan berlangsung, serta respons pasar terhadap penerapan kebijakan tersebut juga positif.

“Pada saat ini diberlakukan, respons dari pasar itu positif,” ujar Jeffrey.

Pada penutupan perdagangan Senin (28/9) sore, IHSG ditutup melemah 94,03 poin atau 1,51 persen ke posisi 6.147,86. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 9,30 poin atau 1,50 persen ke posisi 611,81.

0 Komentar