Tahan BI-Rate, Ekonom Yakini Sektor Riil Tetap Berjalan

Tahan BI-Rate, Ekonom Yakini Sektor Riil Tetap Berjalan
Bank Indonesia pertahankan BI-Rate tetap pada level 5,75 persen. Dok. Pexels
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Ekonomi sektor riil seperti perumahan dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dipastikan dapat tetap berjalan, dipengaruhi sikap Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan BI-Rate.

Hal itu disampaikan Ekonom institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listyanto kepada ANTARA, Senin (18/9/2026).

Menurutnya, keputusan mempertahankan BI-Rate merupakan upaya untuk menjaga ekonomi nasional. “Ya, ini juga bagian dari upaya untuk tetap memastikan ekonomi sektor riilnya berjalan,” ujarnya.

Baca Juga:SOR Kaliki Bersiap Dilanjutkan Usai Mangkrak Sejak 20214, Anggaran Disiapkan Rp72 MiliarLongsor Tengah Malam di Salawu Tasikmalaya Putus Saluran Irigasi Cibiuk, Tagana Ingatkan Zona Rawan

Ia juga menyadari adanya guncangan di sektor kurs rupiah akibat kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed), yang menaikkan suku bunga acuan.

Namun begitu, kata dia, hal tersebut bukan hal yang dapat dihindari, karena semua negara terutama negara berkembang seperti Indonesia, akan merasakan dampak dari kebijakan baru The Fed tersebut.

“Kalau saya baca dari kebijakannya BI, upaya menahan BI Rate ini bagian dari setidaknya laju kredit itu, bunga kredit itu tidak langsung tiba-tiba pada menaikkan bunga, kira-kira begitu dari perbankan di tanah air,” kata Eko.

Untuk itu, menyebut bahwa keputusan menahan BI-Rate tak hanya memberikan optimisme. Namun juga memberikan arah yang lebih agar bunga lebih terjangkau untuk sektor perumahan, terus kemudian juga UMKM.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti memandang tingkat BI-Rate yang saat ini tetap pada level 5,75 persen masih cukup untuk mendukung dan menjaga stabilitas di tengah era suku bunga global yang tinggi (higher for longer).

Destry mengatakan ekonomi domestik saat ini terus bergerak ke arah yang lebih baik sehingga bank sentral Indonesia juga turut mendukung arah tersebut melalui kebijakan makroprudensial, sistem pembayaran, serta kebijakan pendukung lainnya seperti pendalaman pasar keuangan, kebijakan UMKM, dan kebijakan regional.

Sementara itu, Deputi Gubernur Senior BI Aida S Budiman menambahkan bahwa bank sentral memilih untuk tidak menaikkan BI-Rate karena dapat berdampak pada kenaikan harga-harga di domestik.

Baca Juga:Jumat Keliling Polres Tasikmalaya, Polisi Hadir di Tengah WargaBejat! Pria 50 Tahun di Tasikmalaya Diduga Gagahi Bocah SD hingga Enam Kali

Secara keseluruhan, meski terjadi kenaikan harga minyak global, ia menilai fundamental ekonomi domestik saat ini masih cukup baik karena ditopang oleh permintaan dan konsumsi domestik serta investasi.

0 Komentar