Dari Sumatra hingga Miangas, Perjalanan Sidik Permana Membaca Indonesia Lewat Roda Dua

Sidik Permana (43) bersama Motornya saat Tiba di Kilometer 0 Indonesia Istimewa)
Sidik Permana (43) bersama Motornya saat Tiba di Kilometer 0 Indonesia (Doc. Istimewa)
0 Komentar

Setelah menuntaskan perjalanan di Sumatra, Sidik melanjutkan petualangannya ke Pulau Kalimantan. Bentang jalan yang membelah kawasan hutan hingga wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia menghadirkan pengalaman berbeda sekaligus pelajaran hidup yang menurutnya sulit diperoleh dari tempat lain.

Keinginan untuk terus mengenal Indonesia kemudian membawanya menuju kawasan timur Nusantara. Ia melintasi Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, hingga Kupang di Pulau Timor menggunakan sepeda motor. Bahkan, perjalanan itu sempat membawanya menyeberangi perbatasan menuju Timor Leste.

Bagi Sidik, berdiri di wilayah negara tetangga justru memperkuat rasa cintanya terhadap Indonesia. Dari garis batas tersebut, ia menyadari betapa luas dan besarnya wilayah Nusantara.

Baca Juga:Dipulangkan karena Kenakalan, 8 Siswa SMP di Tasikmalaya Menolak Pindah SekolahPemkab Tasikmalaya Siap Dukung Sekolah Alam Hayati, DPUTRLH Buka Peluang Kolaborasi hingga Pendanaan

Dari seluruh perjalanan yang telah dijalani, satu pengalaman yang paling membekas baginya adalah saat mengelilingi Pulau Sulawesi selama 43 hari.

Perjalanan itu bukan sekadar touring jarak jauh. Sidik memiliki misi untuk mencapai Pulau Miangas, salah satu pulau terluar Indonesia yang berada di wilayah perbatasan dengan Filipina.

“Tantangan medan, dari aspal mulus yang memanjakan mata hingga jalanan rusak yang menguji ketahanan fisik dan mesin. Ujian cuaca, berjemur di bawah terik matahari yang menyengat, lalu seketika harus menerobos badai hujan lebat,” ungkapnya menceritakan Medan perjalanan yang ia tempuh.

Berbagai tantangan tersebut, menurut Sidik, seolah terbayar oleh pengalaman bertemu masyarakat di sepanjang perjalanan. Ia mengaku berkali-kali mendapatkan sambutan hangat dari orang-orang yang sebelumnya tidak pernah dikenalnya.

Keramahan warga, sapaan sederhana, hingga bantuan yang diberikan tanpa pamrih menjadi pengalaman yang paling ia ingat dibandingkan jarak ribuan kilometer yang telah ditempuh.

Bagi Sidik, makna perjalanan kini tidak lagi diukur dari seberapa jauh roda motornya berputar atau berapa banyak destinasi wisata yang berhasil dikunjungi.

“Perjalanan ini adalah cara bagiku untuk mengenal Indonesia lebih dekat. Menemukan diri sendiri di antara keberagaman yang menyatukan kita,” kata Sidik.

Baca Juga:KNPI Kabupaten Tasikmalaya Tancap Gas, Digitalisasi UMKM dan Penciptaan Wirausaha Muda Jadi PrioritasBawa Nama Polda Jabar, Anggota Satlantas Polres Tasikmalaya Briptu Dhiva Persembahkan Emas Kapolri Cup 2026

Ia meyakini perjalanan tersebut belum akan berakhir. Masih banyak wilayah yang belum ia datangi, jalan-jalan yang belum pernah dilalui, hingga kisah masyarakat lokal yang menurutnya layak didengar dan dikenal.

0 Komentar