Mereka menyoroti sejumlah peristiwa diplomatik, termasuk polemik yang melibatkan Duta Besar Republik Indonesia di Iran serta perubahan tingkat delegasi Indonesia setelah muncul kritik dari publik.
Bagi komunitas tersebut, dinamika itu mencerminkan belum kuatnya implementasi nilai-nilai Dasasila Bandung dalam praktik diplomasi Indonesia.
Pandangan tersebut menjadi bagian dari pesan yang ingin mereka sampaikan melalui pertunjukan seni.
Baca Juga:Indonesia-Kazakhstan Bentuk Komite Bersama, Buka Peluang Investasi Industri di Kawasan Eurasia5.597 Gerakan Pangan Murah Digelar, Bapanas: Untuk Tekan Inflasi
Mataholang berharap diplomasi Indonesia tetap berpijak pada prinsip kemandirian, solidaritas antarbangsa, dan penolakan terhadap segala bentuk agresi asing sebagaimana diwariskan dalam Konferensi Asia Afrika.
Pada akhirnya, “Salam Perpisahan” tidak hanya menjadi sebuah pertunjukan tari. Ia menjelma menjadi ruang pertemuan antara seni, sejarah, dan sikap politik.
Di atas lantai pertunjukan, setiap putaran penari menghadirkan tafsir tentang kehilangan, penghormatan, sekaligus harapan agar nilai-nilai solidaritas yang pernah lahir di Bandung tetap menemukan tempatnya di tengah perubahan dunia.
Selama satu jam penuh, tubuh-tubuh yang terus berputar itu seolah mengingatkan bahwa dalam banyak kebudayaan, penghormatan kepada seseorang tidak selalu diucapkan lewat kata-kata. Terkadang, ia hadir dalam gerak yang hening, namun menyimpan pesan yang panjang. (Dam)
