SUMEDANG — Limbah agroforestri yang selama ini terabaikan kini diubah menjadi produk bernilai tinggi. Tim Pengabdian kepada Masyarakat Kelompok Keahlian Teknologi Kehutanan Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB) menerapkan teknologi pirolisis untuk menghasilkan biopestisida dan biochar.
Kegiatan bertajuk “Penerapan Teknologi Pirolisis Limbah Agroforestri untuk Produksi Biopestisida dan Biochar dalam Meningkatkan Produktivitas Jagung pada Kelompok Tani Gunung Geulis Sumedang” digelar Minggu, 2 Agustus 2026. Program ini didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia sebagai wujud hilirisasi riset ke masyarakat.
Tujuan utamanya meningkatkan kapasitas petani memanfaatkan limbah biomassa menjadi produk bermanfaat. Melalui pirolisis, sisa pertanian dan kehutanan diolah menjadi biochar sebagai pembenah tanah serta asap cair yang berpotensi menjadi biopestisida ramah lingkungan. Hasilnya diharapkan mendorong produktivitas jagung sekaligus memperkuat praktik pertanian berkelanjutan di kawasan Gunung Geulis.
Baca Juga:BULOG Ajak Pengusaha Penggilingan Padi Jaga Kualitas Beras Demi Ketahanan Pangan NasionalMuradi: Sayembara Begal Dedi Mulyadi Langgar Etika Gubernur
Dr. Ir. Anne Hadiyane, S.Hut., M.Si., Ketua Tim, memaparkan konsep dan penerapan pirolisis sebagai teknologi konversi biomassa. Ia menekankan bahwa pemanfaatan limbah tidak hanya mengurangi sampah, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi langsung bagi petani.
Materi lanjutan disampaikan Dr. Alfi Rumidatul, S.Hut., M.Si., yang membahas pemanfaatan asap cair sebagai biopestisida serta aplikasinya pada pembibitan kakao. Anca Awal Sembada, S.T., M.Si., Ph.D., kemudian melatih peserta menggunakan biochar untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah agar pertumbuhan tanaman lebih optimal.
Dukungan penuh datang dari anggota tim lain. Dr. Ir. Yayat Hidayat, S.Hut., M.Si., bersama mahasiswa magister biomanajemen Amanda Insanimuna, S.T., dan mahasiswa rekayasa kehutanan Hadimanah Fikrudien Bahtiar mendampingi sesi diskusi serta praktik lapangan.
Kehadiran Pak Saepudin, Ketua Kelompok Tani Hutan “Taruna Tani” sekaligus Ketua Forum Komunikasi Gunung Geulis, memperkuat kolaborasi perguruan tinggi dan masyarakat. Ia menilai teknologi tepat guna ini sangat relevan dengan kebutuhan petani setempat. Peserta tidak sekadar menerima teori.
Mereka langsung dilatih memproduksi biochar dan asap cair secara mandiri. Keterampilan praktis ini diharapkan mengurangi ketergantungan terhadap input kimia, meningkatkan hasil panen, serta membuka peluang usaha berbasis limbah biomassa di tingkat lokal. Inovasi sederhana namun berdampak ini menjadi jembatan antara hasil laboratorium dan kebutuhan lapangan.
