Harga Telur di Bandung Turun Jadi Rp24 Ribu per Kilogram, Pedagang Sebut Dampak Liburnya Program MBG

Pedagang menunjukan telur di Pasar Kosambi, Kota Bandung, Selasa (7/7/2026). Foto: Dimas Rachmatsyah
Pedagang menunjukan telur di Pasar Kosambi, Kota Bandung, Selasa (7/7/2026). Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Harga telur ayam ras di sejumlah pasar tradisional di Kota Bandung mengalami penurunan dalam beberapa pekan terakhir. Saat ini, harga telur di tingkat eceran berada di kisaran Rp24 ribu per kilogram, turun dibandingkan harga normal yang biasanya berada di level Rp26.500 hingga Rp27 ribu per kilogram.

Seorang pedagang telur di Kota Bandung, Eeng, mengatakan penurunan harga terjadi setelah pasokan telur di pasar meningkat. Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi berkurangnya penyerapan telur selama program Makan Bergizi Gratis (MBG) memasuki masa libur.

“Harga sekarang sekitar Rp24 ribu per kilogram. Biasanya normal di kisaran Rp26.500 sampai Rp27 ribu. Waktu harga tinggi bahkan pernah mencapai Rp33 ribu sampai Rp38 ribu per kilogram,” kata Eeng saat ditemui di Bandung.

Baca Juga:Potensi PGE Karaha Belum Maksimal, Wabup Tasikmalaya Minta Dukungan KDM Kejar Target 30 MWWujud Syukur HUT Bhayangkara ke-80, Polsek Sukarame Santuni Anak Yatim dan Tegaskan Komitmen Layani Masyarakat

Ia menjelaskan, selama program MBG berjalan, permintaan telur dari peternak dan agen cukup tinggi sehingga mampu menopang harga di pasaran. Kondisi itu mendorong banyak peternak meningkatkan kapasitas produksi dengan menambah populasi ayam petelur maupun kandang.

Namun, ketika program MBG memasuki masa libur selama sekitar dua pekan, penyerapan telur menurun. Sementara itu, produksi telur tetap berlangsung setiap hari sehingga pasokan di tingkat peternak dan agen menjadi melimpah.

“Kemungkinan karena MBG libur. Biasanya telur dari peternak dan agen banyak terserap ke MBG. Sekarang penyerapannya berkurang, sementara ayam tetap bertelur setiap hari. Akhirnya stok melimpah dan harga turun,” ujarnya.

Eeng menambahkan, pedagang seperti dirinya tidak memasok telur secara langsung ke program MBG. Penyaluran umumnya dilakukan oleh peternak maupun pemasok dalam jumlah besar.

Meski harga turun memberikan tekanan bagi peternak, kondisi tersebut justru berdampak positif terhadap daya beli masyarakat. Menurut Eeng, konsumen kini lebih mudah membeli telur karena harganya lebih terjangkau dibandingkan beberapa waktu lalu.

“Dulu waktu harga Rp30 ribu sampai Rp32 ribu per kilogram, masyarakat kelas bawah jarang membeli. Sekarang harganya Rp24 ribu, mereka jadi lebih sering beli. Penjualan saya juga naik sekitar 30 persen,” tuturnya.

Di sisi lain, ia mengungkapkan penurunan harga belum sepenuhnya menguntungkan bagi peternak. Menurut informasi yang diterimanya, harga telur di tingkat peternak di sejumlah daerah bahkan turun lebih rendah sehingga dikhawatirkan belum mampu menutup biaya produksi.

0 Komentar