JABAR EKSPRES – Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menilai bahwa Indonesia dapat naik kelas menjadi negara berpendapatan tinggi.
Menurutnya, terdapat tiga faktor yang menentukan hal tersebut. “Pertama, hilirisasi harus bergerak ke industri dengan nilai tambah tinggi, bukan berhenti pada pengolahan bahan mentah,” ujarnya, dikutip Selasa (7/7/2026).
Kemudian, Yusuf menyoroti investasi di tiga sektor yang harus segera dipercepat agar bonus demografi benar-benar menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi.
Baca Juga:OJK Blokir Ratusan Ribu Rekening Penipuan Keuangan, Bukti Keseriusan Pemberantasan Scam?Plafon Kredit Perumahan Naik Jadi Rp50 Triliun, Ara: Antusiasme Masyarakat Sangat Tinggi
Tiga investasi tersebut, lanjut dia, yakni di bidang pendidikan, kesehatan, dan kualitas tenaga kerja.
Terakhir, ia menyoroti reformasi regulasi. Menurutnya, ini diperlukan untuk menciptakan iklim usaha yang lebih efisien, sehingga perusahaan dapat tumbuh dan berinvestasi lebih besar.
Di samping itu, kata dia, status Indonesia saat ini sebagai negara berpendapatan menengah ke atas dapat menjadi modal awal naik kelas dan menghadapi tantangan yang lebih besar.
Indonesia dapat keluar dari zona negara berpendapatan menengah dan bertransformasi menjadi negara maju.
Secara umum, ia menilai target Indonesia menjadi negara berpendapatan tinggi pada 2045 masih realistis meski syaratnya sangat berat.
“Kuncinya bukan sekadar mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi, melainkan meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan,” kata Yusuf.
Menurutnya, target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8 persen memang menunjukkan ambisi, tetapi akan sulit dicapai jika struktur ekonomi tidak berubah dan pertumbuhan masih ditopang konsumsi atau belanja pemerintah.
Baca Juga:BBM B50 Bisa Bantu Rupiah dan Neraca Perdagangan Tanpa Bebani APBN, Benarkah?Shopee Belanja Instant 1 Jam Tiba Viral, Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah Ikut Meramaikan
Sebagai informasi, untuk tahun fiskal 2027, Bank Dunia menetapkan rentang pendapatan nasional bruto (GNI) per kapita sebesar 4.636-14.375 dolar Amerika Serikat (AS) sebagai ambang negara berpendapatan menengah atas serta di atas 14.375 dolar AS sebagai ambang negara berpendapatan tinggi.
Dalam pembaruan terbaru, di kawasan ASEAN, Vietnam dan Filipina naik kelas menjadi negara berpendapatan menengah atas. Sementara itu, Indonesia, Malaysia, dan Thailand tetap diklasifikasikan sebagai negara berpendapatan menengah atas.
Laos, Myanmar, Kamboja, dan Timor-Leste masih tergolong sebagai negara berpendapatan menengah bawah. Sedangkan negara berpendapatan tinggi di ASEAN adalah Singapura dan Brunei Darussalam.
Yusuf memandang, bergabungnya Vietnam dan Filipina dalam kelompok negara berpendapatan menengah atas menunjukkan bahwa peta ekonomi ASEAN sedang bergeser.
