Ekonom Sebut RI Bisa Naik Kelas Jika Penuhi Tiga Ini!

Ekonom Sebut RI Bisa Naik Kelas Jika Penuhi Tiga Ini!
Ilustrasi negara maju. Dok. Magnific
0 Komentar

“Kawasan ini tidak lagi terbagi antara sedikit negara yang relatif maju dan banyak negara berpendapatan menengah bawah. Kelompok negara berpendapatan menengah atas kini semakin besar,” kata dia.

Namun, ia mengingatkan bahwa klasifikasi Bank Dunia hanya didasarkan pada GNI per kapita. Status ini tidak otomatis mencerminkan produktivitas, kualitas institusi, maupun pemerataan kesejahteraan.

“Karena itu, meskipun posisi ASEAN naik secara agregat, kesenjangan antarnegara masih cukup lebar, terutama dengan Kamboja, Laos, dan Myanmar yang masih berada di kelompok menengah bawah,” kata Yusuf.

Baca Juga:OJK Blokir Ratusan Ribu Rekening Penipuan Keuangan, Bukti Keseriusan Pemberantasan Scam?Plafon Kredit Perumahan Naik Jadi Rp50 Triliun, Ara: Antusiasme Masyarakat Sangat Tinggi

Perkembangan ini, menurut Yusuf, memperketat persaingan sekaligus membuka ruang kolaborasi di antara negara-negara ASEAN.

“Persaingan investasi tentu semakin kuat. Vietnam, misalnya, berhasil memanfaatkan pergeseran rantai pasok global dan berkembang menjadi basis manufaktur yang semakin kompetitif,” ujar Yusuf.

Ia menambahkan, Indonesia kini tidak lagi bersaing dengan negara yang berada pada tingkat pendapatan lebih rendah, melainkan dengan negara yang memiliki kapasitas industri yang semakin setara.

Menurut dia, kondisi tersebut tidak hanya meningkatkan persaingan, tetapi juga membuka peluang untuk memperkuat rantai pasok regional. Indonesia dapat memperkuat perannya di sektor mineral dan hilirisasi, sementara Vietnam memiliki keunggulan di sektor manufaktur elektronik.

“Saat ini investor cenderung melihat kawasan sebagai satu ekosistem produksi, sehingga memperkuat integrasi ASEAN akan jauh lebih efektif dibanding sekadar bersaing menawarkan insentif,” kata Yusuf.

Dibandingkan negara berpendapatan menengah atas lainnya, Yusuf menilai bahwa Indonesia tetap memiliki keunggulan berupa ukuran ekonomi dan pasar domestik yang besar.

Konsumsi domestik membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif lebih tahan terhadap gejolak eksternal dibandingkan negara yang sangat bergantung pada ekspor. Selain itu, stabilitas makroekonomi dan disiplin fiskal juga menjadi nilai tambah.

Baca Juga:BBM B50 Bisa Bantu Rupiah dan Neraca Perdagangan Tanpa Bebani APBN, Benarkah?Shopee Belanja Instant 1 Jam Tiba Viral, Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah Ikut Meramaikan

Meski demikian, kata Yusuf lagi, tantangan utama Indonesia masih terletak pada pertumbuhan produktivitas yang relatif lambat. Menurutnya, reformasi di pasar tenaga kerja, sektor keuangan, perdagangan, dan iklim usaha perlu terus dipercepat.

“Pengalaman Malaysia dan Thailand juga menjadi pengingat bahwa masuk kelompok menengah atas bukan berarti otomatis menjadi negara maju. Keduanya sudah bertahan cukup lama di kelompok tersebut tanpa berhasil menembus status berpendapatan tinggi,” kata Yusuf pula.

0 Komentar