Ia pun optimistis meningkatnya aktivitas wisata di kawasan Pasar Apung Floating Market Lembang akan menjadi momentum kebangkitan pasar batu akik setelah beberapa tahun mengalami perlambatan.
“Alhamdulillah sekarang peminat batu akik meningkat lebih dari 50 persen. Sampai saat ini yang paling banyak membeli justru wisatawan dari luar daerah dan luar negeri,” bebernya.
Di kios miliknya, Sujud memasarkan ratusan jenis batu akik dari berbagai daerah di Indonesia. Namun, Batu Bacan tetap menjadi koleksi unggulan yang paling sering diperkenalkan kepada wisatawan asing karena kualitas dan keunikannya yang khas.
Baca Juga:Plafon Kredit Perumahan Naik Jadi Rp50 Triliun, Ara: Antusiasme Masyarakat Sangat TinggiBBM B50 Bisa Bantu Rupiah dan Neraca Perdagangan Tanpa Bebani APBN, Benarkah?
Lonjakan wisatawan juga dirasakan pelaku UMKM di sektor kuliner. Penjual corndog di Pasar Apung Floating Market Lembang, Wina Harjuni, mengaku permintaan meningkat tajam selama musim liburan.
Dalam sehari, ia mampu menjual sekitar 1.000 porsi corndog dengan harga berkisar Rp20 ribu hingga Rp25 ribu per porsi. Tingginya antusiasme pengunjung membuat penjualannya tetap stabil meskipun kondisi ekonomi nasional masih menghadapi tekanan.
“Selama libur sekolah ini omzet jauh lebih tinggi. Pengunjung juga meningkat drastis. Harga dolar memang naik, tapi tidak berpengaruh ke penjualan saya karena harga jual tetap,” ungkap Wina.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa sektor pariwisata memiliki efek berganda terhadap perekonomian daerah. Selain meningkatkan jumlah kunjungan wisata, aktivitas wisata juga mampu menghidupkan kembali berbagai produk lokal yang sempat kehilangan pangsa pasar.
Di Floating Market Lembang, batu akik kini perlahan kembali memperoleh tempat di hati para kolektor dan wisatawan, terutama wisatawan mancanegara yang mencari cenderamata autentik khas Indonesia dengan nilai budaya dan keunikan yang tidak mudah ditemukan di negara asal mereka. (MONG)
