JABAR EKSPRES – Perempuan berinisial YTR (29) yang diduga menjadi korban penyekapan dan penganiayaan oleh kekasihnya disebut hidup tertutup selama menempati sebuah kamar indekos di kawasan Cinunuk, Kabupaten Bandung.
Pengelola indekos mengaku nyaris tidak pernah memiliki kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan korban.
Mulyati, istri penjaga indekos, mengatakan korban selalu berada di bawah pengawasan pelaku. Sejak pertama kali datang pada Maret 2026, korban bahkan tidak langsung diperlihatkan kepada pengelola.
Baca Juga:Tangani Korban Penyekapan dan Penganiayaan, RSHS Bandung Bentuk Tim Medis KhususTH Resmi Masuk DPO, Polda Jabar Minta Masyarakat Bantu Laporkan Keberadaan Pelaku Penyekapan YTR
Saat akhirnya melihat korban, Mulyati menilai kondisi perempuan tersebut tidak seperti orang sehat.
Korban masih mampu berjalan sendiri, tetapi langkahnya terlihat sangat lambat dan wajahnya selalu ditutupi.
Menurut Mulyati, penampilannya saat itu membuat korban tampak seperti seseorang yang sedang mengalami gangguan kesehatan.
Ia mengingat korban mengenakan jaket dan helm sehingga wajahnya sulit dikenali.
Selama tinggal di indekos, korban juga tidak pernah terlihat berbaur dengan penghuni lain. Mulyati mengaku tidak pernah mendengar suara percakapan, tangisan, maupun teriakan yang berasal dari dalam kamar.
“Enggak pernah dengar suara perempuan dari kamar itu. Kalau ada suara yang sering terdengar justru batuk pelakunya,” ujarnya, Selasa (23/6/2026).
Meski demikian, ia beberapa kali mendengar suara keras menyerupai benda terbentur atau tendangan dari dalam kamar. Namun setiap kali berusaha memeriksa, situasi di dalam kamar terlihat biasa saja.
Baca Juga:Periksa Mantan Istri Taufik Hidayat, Polda Jabar Telusuri Dugaan Pola Kekerasan terhadap YTRBuru Pelaku Penganiayaan dan Penyekapan di Bandung, Polda Jabar Bentuk Tim Khusus
Mulyati menuturkan, suara benturan tersebut cukup sering terdengar selama pasangan itu menghuni indekos. Karena tidak menemukan hal mencurigakan saat dicek, ia tidak menaruh curiga lebih jauh.
Ia juga menyebut pelaku tidak pernah meninggalkan korban seorang diri tanpa pengawasan. Setiap kali keluar untuk membeli makanan atau keperluan lain, pintu kamar selalu dalam keadaan terkunci.
“Kalau dia keluar, kamarnya pasti dikunci. Jadi korban tidak pernah kelihatan bebas keluar masuk,” katanya.
Kecurigaan baru muncul ketika korban dibawa ke rumah sakit. Saat itu, pelaku disebut sempat meminjam kerudung milik Mulyati untuk menutupi wajah korban yang kondisinya sudah sangat lemah.
Menurut pengakuannya, korban tidak berjalan sendiri saat dibawa keluar dari kamar. Tubuhnya harus ditopang oleh pelaku dan wajahnya sengaja ditutupi selama perjalanan menuju kendaraan.
