Komisi V DPRD Jabar Soroti Seleksi Sekolah Maung: Gagasan Baik, Implementasi Masih Bermasalah

Komisi V DPRD Jawa Barat saat menyampaikan beberapa catatan SPMB, Kamis (18/6). (son)
Komisi V DPRD Jawa Barat saat menyampaikan beberapa catatan SPMB, Kamis (18/6). (son)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Komisi V DPRD Jawa Barat menampung berbagai aspirasi masyarakat terkait pelaksanaan Program Sekolah Manusia Unggul (Maung).

Dari hasil evaluasi tersebut, Komisi V mencatat sejumlah persoalan yang perlu segera dibenahi dalam implementasi program yang menjadi gagasan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.

Ketua Komisi V DPRD Jawa Barat Yomanius Untung menguraikan, Sekolah Maung itu secara gagasan sebenarnya punya niat yang baik. Tapi sayang pada implementasinya masih banyak kendala.

Baca Juga:Cungkil Kaca Dapur, Maling Gondol Uang dan Tablet Kasir Kafe di CibinongPemkab Tasikmalaya Siapkan Mal Pelayanan Publik, Urus KTP hingga Izin Usaha Cukup di Satu Tempat

“Ini sebenarnya menduplikasi gagasan Sekolah Garuda dan Garuda Transformasi di tingkat nasional. Lalu di Jawa Barat diberi nama Sekolah Maung,” katanya di Bandung, Kamis (18/6).

Menurut Untung, konsep Sekolah Maung pada dasarnya serupa dengan program Sekolah Garuda dan Garuda Transformasi yang dikembangkan pemerintah pusat. Di Jawa Barat, program tersebut kemudian diadaptasi dengan nama Sekolah Maung.

Ia menjelaskan, sejak awal Sekolah Maung dirancang dengan orientasi pada kualitas peserta didik. Karena itu, proses seleksi calon siswa dilakukan berdasarkan sejumlah kriteria unggulan, seperti potensi intelektual (IQ), prestasi akademik, maupun prestasi nonakademik.

Namun, persoalan mulai muncul pada tahap pendaftaran dan seleksi. Kondisi tersebut memicu berbagai keluhan dari masyarakat, khususnya para orang tua dan calon peserta didik.

Salah satu masalah yang disoroti adalah mekanisme penilaian pada beberapa jalur seleksi. Pada jalur kepemimpinan, misalnya, penilaian tidak dipisahkan dari jalur lain yang memiliki skor tambahan tertentu. Akibatnya, sejumlah calon siswa dengan predikat Ketua OSIS justru tersingkir oleh peserta dari jalur lain.

Permasalahan itu semakin kompleks karena sistem aplikasi yang digunakan dinilai belum optimal. Beberapa perubahan skor yang terjadi di tengah proses seleksi memicu kebingungan dan keresahan di kalangan peserta.

“Karena direvisi di tengah jalan, maka timbullah gejolak di publik,” tuturnya.

Baca Juga:PHE Cetak Rekor Produksi 1 Juta BOEPD, Temuan Sumber Daya 1 Miliar BOE Perkuat Ketahanan Energi IndonesiaSemarak Obor Tahun Baru Islam Tetap Menyala di Perkampungan Tasikmalaya

Untung menegaskan, misi Sekolah Maung sebenarnya sangat baik. Namun, pelaksanaannya belum didukung oleh kesiapan yang memadai.

Sebelum proses seleksi dibuka, Komisi V DPRD Jabar bahkan telah menyarankan agar program tersebut dijalankan secara bertahap sebagai proyek percontohan.

0 Komentar