JABAR EKSPRES – Malam baru saja turun ketika suara takbir, shalawat, dan lantunan doa mulai menggema dari berbagai penjuru kampung di Desa Linggaraja, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Tasikmalaya. Selepas salat Isya, Senin (15/6/2026), ribuan warga berduyun-duyun keluar dari rumah masing-masing untuk menyambut datangnya 1 Muharram 1448 Hijriah.
Di tengah arus modernisasi yang perlahan mengikis berbagai tradisi pedesaan, cahaya obor bambu di Linggaraja tetap menyala. Menjadi penanda bahwa pergantian tahun baru Islam bukan sekadar pergantian angka dalam kalender, melainkan momentum spiritual yang terus diwariskan lintas generasi.
Masyarakat dari 20 Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) yang tersebar di tiga dusun tampak antusias mengikuti Pawai Taaruf. Anak-anak, remaja, orang tua hingga lansia berjalan bersama membawa obor bambu yang menyala terang di sepanjang jalan kampung menuju Lapangan Malaganti, pusat kegiatan masyarakat yang berjarak sekitar 500 meter dari Balai Desa Linggaraja.
Baca Juga:Dukung Performa Generasi Muda, AQUA Jadi Hydration Partner Resmi DBL IndonesiaAtlet Kabupaten Tasikmalaya Berisiap Sambut Porprov Jabar 2026, Sepak Bola Kembali Setelah 30 Tahun
Tak ada undangan resmi yang beredar. Tak ada pengeras suara canggih yang memanggil warga satu per satu. Informasi cukup disampaikan oleh para ajengan dan pengurus masjid di kampung masing-masing. Namun ketika malam Muharram tiba, masyarakat seolah sudah memahami apa yang harus dilakukan.
Mereka datang dengan persiapan sederhana. Sebagian membawa nasi tumpeng untuk disantap bersama. Sebagian lainnya menyiapkan obor bambu yang diisi bahan bakar dan diberi sumbu dari sabut kelapa. Semua dilakukan secara swadaya.
Tradisi ini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Sebuah kebiasaan yang tumbuh bukan karena instruksi pemerintah, melainkan karena kesadaran kolektif yang diwariskan turun-temurun.
Tidak ada artis ibu kota yang menghibur ribuan warga malam itu. Hiburan mereka adalah lantunan shalawat hadrah dengan peralatan sederhana. Tidak ada panggung megah dengan tata cahaya spektakuler. Yang hadir hanyalah panggung kecil dengan pencahayaan seadanya.
Tidak pula ada pesta kembang api yang menghiasi langit malam. Sebagai gantinya, ribuan titik api dari obor bambu membentuk lautan cahaya yang bergerak perlahan di jalan-jalan kampung.
Malam itu masyarakat lebih memilih bermunajat. Mereka mengikuti istighasah dan doa bersama yang dipimpin para ajengan serta tokoh agama desa. Kehadiran Camat Sukaraja di tengah masyarakat menjadi warna tersendiri, meski kemeriahan acara sejatinya lahir dari semangat warga itu sendiri.
