Bongkar Mitos UMKM Kuliner, Polytron dan Populix Hadirkan Peta Jalan Naik Kelas Berbasis Data

Bongkar Mitos UMKM Kuliner, Polytron dan Populix Hadirkan Peta Jalan Naik Kelas Berbasis Data
Bongkar Mitos UMKM Kuliner, Polytron dan Populix Hadirkan Peta Jalan Naik Kelas Berbasis Data
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Di balik menjamurnya bisnis kuliner yang menghiasi sudut-sudut kota hingga ruang digital, terdapat tantangan besar yang kerap luput dari perhatian. Banyak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih terjebak dalam berbagai asumsi yang dianggap sebagai kunci sukses berbisnis, padahal justru berpotensi menghambat pertumbuhan usaha. Realitas tersebut terungkap dalam peluncuran “UMKM Handbook: Panduan UMKM Naik Level” hasil kolaborasi Polytron dan Populix yang digelar di Bandung, Kamis (18/6/2026).

Melalui riset lapangan yang melibatkan pelaku UMKM kuliner, handbook ini mengupas berbagai persoalan mendasar yang dihadapi pengusaha kecil sekaligus menawarkan langkah strategis untuk berkembang secara berkelanjutan.

Peluncuran handbook tersebut menjadi bagian dari komitmen Polytron dalam mendukung penguatan ekosistem UMKM di Indonesia. Tak sekadar menghadirkan data, kegiatan ini juga dirangkai dengan pelatihan yang diikuti lebih dari 100 pelaku UMKM dari Bandung dan sekitarnya.

Baca Juga:BPBD Kabupaten Bogor Prediksi Puncak Kekeringan Terjadi Agustus-SeptemberKapolda Jabar Cup 2026 : Sempat Tertinggal, Tim Voli Polres Tasikmalaya Menang Telak 3-0 di Laga Perdana

Hasil riset menunjukkan bahwa mayoritas pelaku UMKM di Indonesia merupakan kelompok perintis. Sebanyak 80 persen responden memulai usaha dari nol, dengan motivasi utama untuk memperoleh kemandirian finansial dan memanfaatkan peluang pasar yang dinilai menjanjikan.

Sebanyak 57 persen pelaku usaha mengaku terdorong oleh keinginan untuk mandiri, sementara 46 persen melihat adanya peluang bisnis yang bisa dikembangkan. Menariknya, lanskap UMKM saat ini didominasi generasi muda. Kelompok Gen Z dan milenial tercatat mencapai 65 persen dari total pelaku usaha yang disurvei.

Di sisi lain, semangat kewirausahaan tersebut masih dibayangi keterbatasan modal. Sebanyak 63 persen pelaku usaha mengandalkan tabungan pribadi sebagai sumber pendanaan awal, sedangkan 46 persen lainnya mengembangkan usaha secara bertahap melalui keuntungan yang diperoleh. Kondisi ini menunjukkan tingginya kemandirian pelaku usaha, namun sekaligus menggambarkan kerentanan finansial pada fase awal bisnis.

Mitos yang Menghambat Pertumbuhan

Salah satu temuan menarik dalam handbook tersebut adalah masih kuatnya berbagai mitos yang dipercaya pelaku UMKM. Polytron dan Populix mencatat sedikitnya lima asumsi yang sering dianggap benar, namun ternyata bertolak belakang dengan realitas di lapangan.

Mitos pertama adalah anggapan bahwa bisnis baru bisa disebut sukses jika memiliki banyak cabang. Padahal, ekspansi yang dilakukan tanpa sistem dan standar operasional yang jelas justru berpotensi menjadi bumerang.

0 Komentar