Mitos terakhir adalah anggapan bahwa peralatan usaha yang berkualitas harus selalu mahal. Berdasarkan hasil riset, yang dibutuhkan UMKM bukanlah peralatan dengan harga tertinggi, melainkan perangkat yang tepat guna dan sesuai kebutuhan usaha.
Saat ini sekitar 60 persen UMKM belum memiliki perangkat elektronik pendukung operasional. Padahal, 40 persen pelaku usaha yang telah memanfaatkannya merasakan peningkatan kecepatan pelayanan hingga 68 persen serta efisiensi penggunaan bahan baku sebesar 50 persen.
Namun demikian, masih terdapat 42 persen pelaku usaha yang membeli perangkat semata-mata berdasarkan harga termurah, tanpa mempertimbangkan aspek garansi dan daya tahan produk.
Redefinisi UMKM Naik Kelas
Baca Juga:BPBD Kabupaten Bogor Prediksi Puncak Kekeringan Terjadi Agustus-SeptemberKapolda Jabar Cup 2026 : Sempat Tertinggal, Tim Voli Polres Tasikmalaya Menang Telak 3-0 di Laga Perdana
Berdasarkan berbagai temuan tersebut, Polytron memperkenalkan definisi baru mengenai konsep “UMKM Naik Level”. Bukan lagi sekadar memperbesar omzet atau membuka banyak cabang, melainkan membangun bisnis yang sehat dan berkelanjutan melalui empat pilar utama.
Pilar pertama adalah konsep, yakni kemampuan membangun identitas usaha yang kuat dan profesional meski masih berskala rumahan.
Pilar kedua adalah sistem, yaitu transformasi dari proses manual menuju sistem digital yang lebih efisien dan minim kesalahan.
Pilar ketiga adalah aset, yang menekankan pentingnya investasi jangka panjang pada perangkat dan fasilitas pendukung usaha.
Sedangkan pilar keempat adalah ekspansi, yakni membuka peluang pertumbuhan baru tanpa mengorbankan stabilitas bisnis yang sudah berjalan.
Digitalisasi Jadi Kunci
Penguatan empat pilar tersebut turut dibahas dalam workshop yang menghadirkan sejumlah praktisi dan akademisi. Salah satunya Dr. Ir. Yati Rohayati, M.T., Pakar Sistem Operasional Industri dan Digital Marketing dari Center of Excellence Smart MSME and Halal Ecosystem (SHE) Telkom University.
Menurutnya, keberhasilan pemasaran digital harus didukung sistem operasional yang kuat di belakang layar.
Baca Juga:Ribuan Motor Listrik BGN Senilai Rp1,3 Triliun di Sentul Bogor Disegel!Semarak Hari Bhayangkara ke-80, Polres Tasikmalaya Gelar Lomba MTQ dan Adzan
Ia menegaskan bahwa pelaku UMKM perlu mulai menyusun SOP yang jelas dan mendigitalisasi alur kerja, mulai dari proses produksi hingga produk diterima konsumen.
Selain itu, Yati juga menyoroti pentingnya strategi omnichannel, yakni integrasi berbagai kanal penjualan seperti toko fisik, WhatsApp, Instagram, marketplace hingga layanan pesan antar berbasis data pelanggan.
Dengan pendekatan tersebut, pelaku usaha dapat meningkatkan peluang terjadinya repeat order sekaligus memperkuat loyalitas konsumen.
