JABAR EKSPRES – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green diklaim dapat membantu menjaga nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS.
Hal itu disampaikan Pengamat Kebijakan Publik Universitas Padjadjaran (Unpad) Bonti Wiradinata melalui keterangam tertulis, Kamis.
Selain itu, Bonti juga menyebut bahwa kebijakan pemerintah menaikan harga Pertamax dan Pertamax Green itu juga membantu mengatasi tekanan APBN.
Baca Juga:Rutin Santuni Anak Yatim, Satreskrim Polres Tasikmalaya Minta Doa untuk Kelancaran TugasSkema Bansos Baru Tak Kurangi Program Perlindungan Sosial, Benarkah?
“Urgensi menaikkan harga BBM ini saya perkirakan terkait dengan strategi pemerintah dalam mempertahankan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS serta mengatasi tekanan APBN yang terjadi sebagai akibat pelemahan rupiah tersebut,” ujarnya, dikutip Jumat (12/6/2026).
Menurutnya, harga Pertamax sebagai BBM nonsubsidi pada dasarnya mengikuti perkembangan harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah.
Ketika kedua faktor tersebut mengalami tekanan dalam waktu yang cukup lama, pemerintah pada akhirnya harus melakukan penyesuaian agar tidak menimbulkan beban fiskal yang lebih besar.
Bonti menilai langkah pemerintah menahan harga selama beberapa bulan terakhir patut diapresiasi karena telah memberikan bantalan ekonomi dan psikologis kepada masyarakat.
Namun, menurutnya, semakin lama penyesuaian harga ditunda, semakin besar pula tekanan yang harus ditanggung negara maupun badan usaha energi.
Ia menambahkan, menjaga harga BBM nonsubsidi di bawah harga keekonomian dalam jangka panjang berpotensi membebani arus kas dan memperbesar kebutuhan kompensasi energi. Karena itu, penyesuaian harga dinilai sebagai langkah realistis untuk menjaga kesehatan fiskal negara.
“Dengan menyesuaikan harga, pemerintah meminimalisir potensi pembengkakan biaya kompensasi energi. Ini adalah upaya untuk memastikan bahwa APBN tetap fokus pada pembiayaan prioritas lain,” kata Bonti.
Baca Juga:ESDM Jamin Tak Ada Kenaikan Harga BBM dan LPG Subsidi, Benarkah?Kawal Ketahanan Pangan, Satreskrim Polres Tasikmalaya Awasi Perkembangan Perkebunan Jagung
Di samping itu, kata dia, risiko gejolak sosial akibat kenaikan Pertamax relatif lebih terkendali dibandingkan apabila pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi.
Sebab, pengguna Pertamax umumnya berasal dari kelompok masyarakat yang memiliki lebih banyak pilihan dalam mengatur pola konsumsi energinya.
Hal senada disampaikan Sekretaris Eksekutif YLKI Rio Priambodo. Dia mengatakan pihaknya memahami harga BBM nonsubsidi dipengaruhi oleh dinamika harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
