“Kalau dipersentasekan mungkin ada penurunan sekitar 20 hingga 25 persen untuk shift saat ini, meskipun itu masih sebatas prediksi awal,” ungkap Andriansyah.
Ia mengatakan sebagian konsumen masih belum mengetahui perubahan harga karena informasi belum sepenuhnya diterima oleh masyarakat.
“Saat ini ada yang sudah tahu dan ada juga yang belum. Informasi dari media sosial belum semuanya tersampaikan ke masyarakat,” jelasnya.
Baca Juga:Tukang Pijat Jadi Korban Begal di Rancabungur, Ditendang hingga Tersungkur, Motor Pinjaman RaibSudah Beraksi 10 Kali, Komplotan Curanmor Asal Cipatujah Dibekuk Polisi!
Mengantisipasi kemungkinan meningkatnya jumlah pengguna Pertalite, pihak SPBU telah menerima arahan untuk meningkatkan kesiapan pelayanan, terutama pada jalur pengisian BBM.
Andriansyah menyebut penambahan petugas diperlukan agar antrean tidak menumpuk apabila terjadi pergeseran konsumsi dari Pertamax ke Pertalite.
“Untuk arahan, mungkin setiap SPBU SDM-nya diperbanyak khusus Pertamax, jadi biar lebih cepat pengisiannya, agar antrean Pertalite itu nggak terlalu panjang,” katanya.
Sementara itu, kenaikan harga Pertamax turut dirasakan oleh sejumlah pengguna kendaraan. Bagus (35), warga Kabupaten Bandung Barat, mengaku terkejut dengan kenaikan harga yang menurutnya cukup signifikan.
“Saya biasanya selalu isi Pertamax. Tapi sekarang harganya mahal sekali, jadi lebih baik pakai Pertalite dulu,” katanya.
Menurut dia, kenaikan hampir Rp4.000 per liter akan berdampak terhadap pengeluaran masyarakat, terutama bagi pengguna kendaraan dengan aktivitas tinggi setiap hari.
“Kenaikannya terlalu mahal, dan tentunya ini akan berpengaruh terhadap pengeluaran saya,” ujarnya menutup. (Mong)
