Virlana mengatakan sekali mengisi bensin kini membutuhkan biaya tambahan sekitar Rp10 ribu-Rp15 ribu dibanding sebelumnya. Untuk mengurangi pengeluaran, ia memilih menerima order jarak dekat dan bekerja lebih lama hingga malam hari.
Meski begitu, ia menilai tarif aplikasi ojol belum menyesuaikan dengan kenaikan harga BBM.
“Harapan kami aplikasi bisa menyesuaikan tarif supaya driver tidak rugi,” ungkapnya.
Baca Juga:Skema Bansos Baru Tak Kurangi Program Perlindungan Sosial, Benarkah?ESDM Jamin Tak Ada Kenaikan Harga BBM dan LPG Subsidi, Benarkah?
Virlana mengaku akhirnya beralih dari Pertamax ke Pertalite karena harga Pertamax dinilai terlalu tinggi. Kenaikan harga BBM membuat banyak pekerja transportasi dan logistik harus menghitung ulang pengeluaran harian mereka. Di tengah pendapatan yang belum bertambah, biaya operasional yang terus naik menjadi beban utama bagi kurir maupun pengemudi ojol.
“Kalau tetap pakai Pertamax, penghasilan tidak seimbang dengan biaya bensin. Makaya untuk saat ini beralih dulu ke pertalite meski harus mengantre panjang, atau engga ya isi eceran,” katanya menutup. (Mong)
