BANDUNG – Sistem zonasi yang diterapkan untuk menghilangkan kesan sekolah favorit ternyata membuat sekolah negeri di Jawa Barat kesulitan bersaing di tingkat nasional. Sekolah swasta justru mendominasi ranking karena lebih unggul dalam persiapan SDM dan anggaran. Kini Pemprov Jabar mencoba terobosan dengan meluncurkan Sekolah Maung atau Sekolah Manusia Unggul yang murni hanya menerima siswa berprestasi.
Ketua Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia (AKSI) Kabupaten Bandung, Toteng Suhara, S.Pd., M.M.Pd., mengatakan evaluasi di lapangan menunjukkan sekolah negeri Jabar saat ini tidak mampu berbicara banyak di ranking nasional. “Setelah zonasi diterapkan, sekolah negeri kita kalah dengan swasta. Swasta lebih siap dari sisi SDM dan anggaran. Makanya diperlukan sekolah unggulan atau favorit agar bisa bersaing di level nasional,” ujar Toteng, kepada Jabar Ekspres, baru-baru ini.
Saat ini program tersebut masih dalam tahap piloting. Setiap kabupaten/kota mendapat satu Sekolah Maung untuk tingkat SMA, kecuali Kota Bandung yang mendapat dua yaitu SMAN 5 dan SMAN 3. Di Kabupaten Bandung, sekolah tersebut berpusat di SMAN 1 Soreang.
Baca Juga:LPPM Unisba Dorong Transformasi Digital UKM Rumah Nisa BandungRibuan Pendaftar Berebut 504 Kursi di SMAN 1 Nagreg
Sementara untuk SMK Maung, satu per Cabang Dinas Pendidikan dengan total 13 sekolah. Yang istimewa, penerimaan siswa ke Sekolah Maung hanya melalui jalur prestasi murni, tanpa zonasi maupun jalur lain. Syaratnya ketat, baik prestasi akademik dengan nilai rapor dan Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang tinggi, maupun non-akademik minimal tingkat provinsi.
Menurut Toteng, kehadiran Sekolah Maung diharapkan mampu mengembalikan motivasi belajar siswa yang sempat menurun akibat sistem zonasi. Dulu, siswa terpacu belajar keras sejak SMP karena ingin masuk sekolah unggulan. Kini banyak yang pasrah cukup dengan nilai pas-pasan asal dekat dengan sekolah. “Anak-anak jadi berpikir yang penting diterima meski nilainya kecil. Motivasi belajar bisa menurun,” kata Toteng, yang juga Kepala SMAN 1 Nagreg, Kabupaten Bandung ini.
Selain itu, di sekolah biasa siswa berprestasi yang hanya sekitar 15-20 persen per angkatan sering merasa kurang bersaing. Misalnya, mereka kerap mengerjakan tugas kelompok sendirian sementara yang lain hanya ikut presentasi. Hal ini justru menurunkan semangat belajar siswa unggul. “Dengan Sekolah Maung, semua siswa di kelasnya unggul sehingga persaingan menjadi sehat. Semua akan berkontribusi dan saling memacu,” jelas Toteng.
