Ribuan Pendaftar Berebut 504 Kursi di SMAN 1 Nagreg

SMAN 1 Nagreg
Kepala SMAN 1 Nagreg, Kabupaten Bandung, Toteng Suhara, menjelaskan proses Pemetaan Calon Murid Baru (PCMB) pada hari terakhir pendaftaran, Senin (8/6/2026).
0 Komentar

KABUPATEN BANDUNG – Persaingan masuk SMAN 1 Nagreg tahun ini kembali membludak. Hampir 1.000 calon siswa mendaftar, padahal kuota yang tersedia hanya 504 orang. Artinya, ratusan pendaftar dipastikan tidak diterima di sekolah tersebut.

Kepala SMAN 1 Nagreg, Toteng Suhara, S.Pd., M.M.Pd., mengakui sekolahnya menjadi salah satu yang paling padat peminat di Kabupaten Bandung. “Kita mengajukan 42 siswa per kelas untuk 12 rombongan belajar, dan itu disetujui karena setiap tahun memang selalu over pendaftar,” ujar Toteng kepada Jabar Ekspres, Senin (8/6/2026).

Yang berbeda tahun ini adalah penerapan PCMB (Pemetaan Calon Murid Baru). Menurut Toteng, sistem baru ini memberi hikmah tersendiri karena peserta sudah bisa melihat posisi ranking mereka secara real-time melalui aplikasi. “Di aplikasi sudah terlihat apakah mereka masuk zona atau tidak. Jadi meski nanti tidak diterima, mereka sudah siap mental sejak dini,” katanya.

Baca Juga:Stok Beras Kosong, Warga Bandung Kesulitan Belanja di Supermarket dan MinimarketKonser Tritan Point Dipertanyakan, Pemuda Panyileukan Minta Evaluasi Menyeluruh

Pengumuman resmi dijadwalkan 12 Juni 2026. Setelah itu, calon siswa yang diterima harus melakukan daftar ulang. Jika tidak, dianggap mengundurkan diri dan kuota kosong akan dibuka kembali untuk tahap berikutnya. Namun, Toteng memperkirakan kuota kemungkinan besar akan terpenuhi melalui PCMB karena hampir semua jalur sudah terisi.

Meski dipuji karena lebih transparan dan simpel dibanding tahun lalu, pelaksanaan PCMB tidak luput dari kendala. Server pusat beberapa kali mengalami gangguan dan down, terutama saat maintenance. “Server ini masih baru. Karena semua jalur digabung dalam satu aplikasi, bebannya jauh lebih berat daripada tahun sebelumnya yang dibagi tahap,” jelas Toteng.

Akibatnya, proses verifikasi dan validasi sempat terhenti. Panitia sekolah hanya bisa memantau dan menginformasikan kepada pendaftar melalui grup operator. Bagi yang masih kesulitan, orang tua atau siswa diminta datang langsung ke sekolah untuk dibantu.

Lebih Transparan, Kecurangan Tertekan

Toteng menegaskan kelebihan sistem baru ini sangat terasa di lapangan. Dulu ada tahap 1 dan tahap 2 yang memakan waktu lama, kini semuanya serentak dan terbuka. “Sekarang lebih simpel, cepat, praktis, dan transparan. Semua orang tahu posisinya. Kecurangan seperti siswa titipan sangat sulit dilakukan, siapa pun yang mencoba akan kena sanksi,” tegasnya.

0 Komentar