JABAR EKSPRES – Pengembang Perumahan The Emeralda Resort mengakui pembangunan proyek yang dipasarkan di kawasan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, mengalami keterlambatan.
Kondisi tersebut disebut dipicu persoalan pembebasan lahan, perizinan, hingga gangguan arus kas perusahaan.
Direktur Utama PT Siliwangi Anatha Bumi (SAB), Yana Priatna, mengatakan keterlambatan proyek dipengaruhi proses pelunasan lahan, perizinan, serta pekerjaan pematangan lahan (cut and fill) yang memakan waktu lebih lama dari perkiraan.
Baca Juga:Jelang Penyaluran BOSP Tahap 2, Disdikbud Kabupaten Tasikmalaya Minta Sekolah Lengkapi AdministrasiBea Cukai Jamin Layanan Ekspor Tetap Normal Meski DSI Bersiap Jadi Eksportir Tunggal
“Tidak ada niat penipuan. Dana yang masuk digunakan untuk pembebasan lahan dan kebutuhan proyek. Saya siap diaudit kapan saja,” kata Yana saat dihubungi, Rabu (10/6/2026).
Menurut Yana, proyek The Emeralda Resort merupakan proyek berskala besar pertama yang dikelola perusahaannya. Karena itu, sejumlah kendala manajerial turut memengaruhi jalannya pembangunan.
Ia mengakui terdapat kekurangan dalam aspek operasional, pemasaran, investasi, hingga pengelolaan organisasi yang membuat target pembangunan tidak tercapai sesuai rencana.
“Mungkin karena ini pertama kalinya kami mengelola proyek dengan skala sebesar ini, ada kesalahan dalam manajemen, baik operasional, pemasaran, investasi maupun hal lainnya,” ujarnya.
Selain mengalokasikan dana besar untuk pembebasan lahan, perusahaan juga harus menanggung biaya operasional dan pemasaran yang cukup tinggi. Di sisi lain, kondisi ekonomi yang tidak menentu membuat pemasukan perusahaan tidak sebanding dengan pengeluaran.
“Untuk pembebasan tanah, cut and fill, dan progres lainnya memang membutuhkan biaya besar. Saya akui juga ada kesalahan karena biaya operasional, pemasaran, dan penjualan terlalu besar. Ditambah berbagai krisis yang terjadi, pemasukan tidak sejalan dengan pengeluaran sehingga kami mengalami masalah cash flow,” jelasnya.
Yana menyebut hingga saat ini perusahaan telah menggelontorkan dana puluhan miliar rupiah untuk pengembangan proyek tersebut. Namun lemahnya fundamental perusahaan membuat proses pembangunan sangat bergantung pada penyelesaian pembebasan lahan yang memakan waktu lebih lama dari perkiraan.
Baca Juga:Harga Sawit Petani Swadaya Melonjak 12,32 Persen, Tembus Rp3.674 per KilogramTaman Safari Perkenalkan Satrio Wiratama, Baby Giant Panda Pertama yang Lahir di Indonesia
“Kami sudah mengeluarkan dana puluhan miliar rupiah untuk proyek ini. Hanya saja fundamental perusahaan memang kurang kuat karena harus menunggu pelunasan lahan sebelum pembangunan berjalan maksimal,” tuturnya.
