Kemenperin Dorong Industri Manufaktur Lebih Agresif Menembus Pasar Global

Kemenperin Dorong Industri Manufaktur Lebih Agresif Menembus Pasar Global
Ilustrasi Kemenperin dorong industri manufaktur ke pasar global lebih meningkat. (Dok. Pixabay)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyiapkan langkah strategis untuk meningkatkan daya saing industri manufaktur nasional di pasar internasional.

Salah satu target utama yang dicanangkan adalah meningkatkan kontribusi ekspor produk manufaktur dari sekitar 20 persen menjadi 30 persen dari total penjualan industri nasional dalam beberapa tahun ke depan.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa penguatan ekspor tidak akan mengorbankan kebutuhan pasar domestik yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan industri Indonesia.

Baca Juga:Taruna Akpol Angkatan 59 Asah Kemampuan Lapangan di Polres TasikmalayaKenaikan Harga Kedelai Masih Menekan Pengusaha Tahu-Tempe di Cianjur

“Pasar domestic tetap menjadi kekuatan utama industri nasional. Namun ke depan, kita perlu memperkuat industri yang berorientasi ekspor agar penetrasi produk manufaktur Indonesia di pasar global semakin besar. Targetnya, komposisi yang saat ini sekitar 20 persen ekspor dan 80 persen domestik dapat meningkat menjadi 30 persen ekspor dan 70 persen domestik, tanpa mengurangi kemampuan industri memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri,” katanya.

Menurutnya, penguatan industri manufaktur berorientasi ekspor menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan ketahanan sektor industri sekaligus memperluas akses produk Indonesie ke pasar internasional.

Optimisme tersebut didukung oleh kinerja sektor manufaktur yang terus menunjukkan tren positif. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat industri pengolahan tumbuh 5,04 persen pada triwulan I 2026 dan menjadi penyumbang terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional dengan kontribusi mencapai 19,07 persen atau senilai Rp1.179,62 triliun.

Dari sisi investasi, sektor industri pengolahan juga menjadi magnet utama bagi investor dengan realisasi investasi sebesar Rp182,04 triliun atau sekitar 36,49 persen dari total investasi nasional.

Sementara itu, ekspor produk manufaktur selama Januari hingga April 2026 mencapai 75,57 miliar dolar AS dan menyumbang lebih dari 82 persen terhadap total ekspor Indonesia.

Untuk mendukung target ekspor tersebut, Kemenperin menyiapkan berbagai kebijakan yang mencakup pemberian insentif fiskal dan nonfiskal, pengendalian impor secara terukur, serta penguatan instrumen perlindungan bagi industri dalam negeri.

Selain itu, pemerintah juga mendorong pemanfaatan skema Local Currency Settlement (LCS) dalam transaksi perdagangan internasional.

Baca Juga:UMKM Jadi Motor Penggerak Ekonomi Rakyat, Peluang Pasar Kian TerbukaBocah 9 Tahun Tewas Diserang Kawanan Anjing Pemburu di Jasinga Bogor 

Langkah ini dinilai mampu mengurangi ketergantungan terhadap mata uang tertentu, menekan risiko fluktuasi nilai tukar, serta meningkatkan efisiensi biaya transaksi bagi pelaku industri.

0 Komentar