Kenaikan Harga Kedelai Masih Menekan Pengusaha Tahu-Tempe di Cianjur

Kenaikan Harga Kedelai Masih Menekan Pengusaha Tahu-Tempe di Cianjur
Ilustrasi kenaikan harga kedelai di Indonesia. (Dok. Pixabay)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Meski laju kenaikan harga kedelai dinilai lebih terkendali dibandingkan beberapa waktu lalu, para pelaku usaha tahu dan tempe di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, masih menghadapi tekanan berat akibat tingginya biaya produksi.

Ketua Koperasi Perajin Tahu Tempe Indonesia (Kopti) Kabupaten Cianjur, Hugo Siswaya, mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih berdampak pada harga kedelai impor yang menjadi bahan baku utama industri tahu dan tempe.

Kondisi tersebut membuat biaya operasional para perajin terus meningkat.

Menurut Hugo, kenaikan harga kedelai saat ini memang tidak setinggi sebelumnya yang sempat melonjak drastis. Namun, kenaikan yang terjadi secara bertahap tetap memberatkan sekitar 300 pengusaha tahu dan tempe di wilayah Cianjur.

Baca Juga:UMKM Jadi Motor Penggerak Ekonomi Rakyat, Peluang Pasar Kian TerbukaBocah 9 Tahun Tewas Diserang Kawanan Anjing Pemburu di Jasinga Bogor 

“Meski kenaikan lebih terkendali dibandingkan dengan sebelumnya namun tetap saja berdampak terhadap pelaku usaha tahu tempat di Cianjur, kami berharap pemerintah turun tangan secepatnya guna menstabilkan harga kedelai di pasaran,” katanya.

Tekanan biaya produksi membuat para pelaku usaha harus mencari berbagai cara untuk bertahan. Sebagian memilih mengurangi ukuran produk, sementara lainnya menurunkan kapasitas produksi guna menekan pengeluaran.

Bahkan, sekitar 50 pengusaha tahu di Cianjur dilaporkan menghentikan aktivitas produksi sementara karena tidak lagi mampu membeli bahan baku dalam jumlah yang dibutuhkan.

Kondisi ini menjadi sinyal bahwa sektor usaha kecil berbasis kedelai masih rentan terhadap gejolak harga komoditas impor.

Pemilik pabrik tahu di Kecamatan Cianjur, Taufik Munandar, mengungkapkan harga kedelai saat ini telah mencapai sekitar Rp10.500 per kilogram.

Kenaikan tersebut berdampak langsung pada biaya produksi, sementara daya beli masyarakat dan angka penjualan justru mengalami penurunan.

Akibat ketidakseimbangan antara biaya produksi dan pendapatan, usahanya terpaksa menghentikan produksi selama dua bulan terakhir untuk menghindari kerugian yang lebih besar.

Baca Juga:Pelajar SMP Terluka Usai Diduga Terlibat Tawuran Antarkelompok di Parung BogorStandar Baru Susu Formula yang Terbuat dari Susu Segar dengan One-Step Fresh akan Segera Hadir di Indonesia

“Biasanya setiap hari kami dapat mengolah 100 sampai 200 kilogram kedelai menjadi tahu atau tempe dengan melibatkan 14 orang pekerja, namun sejak harga kedelai terus merangkak naik, biaya operasional membengkak sedangkan pendapatan menurun,” katanya.

Para pelaku usaha berharap pemerintah segera menghadirkan solusi yang mampu menjaga stabilitas harga kedelai di pasaran.

0 Komentar