“Buruh tani sekarang susah dicari. Beda dengan dulu. Anak-anak muda banyak yang pergi ke kota mencari pekerjaan,” tutur Mukhlis.
Menurutnya, rendahnya keuntungan usaha tani membuat petani sulit menaikkan upah buruh. Saat ini, upah tenaga kerja di kampung berkisar Rp75 ribu untuk setengah hari kerja. Jika dinaikkan lebih tinggi, petani khawatir biaya produksi tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh saat panen.
“Ari ayeuna mah langka milarian padamel di sawah téh. Giliran butuh, teu aya jalmina,” ucapnya dalam bahasa Sunda yang berarti, “Sekarang mencari pekerja sawah sangat sulit. Saat dibutuhkan, orangnya tidak ada.”
Baca Juga:Rumah Dadan Hindayana di Sentul Ternyata Sudah Disewa Tiga Bulan, Security Sebut Kerap Digunakan untuk RapatRumah Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Digeledah Kejagung, Petugas Bersenjata Laras Panjang Turun ke Sentul
Kondisi tersebut berdampak pada semakin banyak lahan garapan yang dikembalikan kepada pemiliknya. Di sejumlah kampung, banyak petani penggarap atau nyambut mulai menyerah karena pendapatan dari bertani tidak lagi mampu menutupi biaya produksi.
Di atas semua persoalan itu, ada satu hal yang paling sulit diprediksi: cuaca.
Jika dahulu petani dapat membaca pola musim dengan cukup jelas, kini semuanya berubah. Hujan dan kemarau datang tanpa pola yang pasti.
“Tiga minggu lalu masih sering hujan. Setelah itu tidak turun hujan sama sekali sampai sekarang. Jadi kami bingung menentukan waktu tanam,” kata Mukhlis.
Kondisi semakin berat bagi petani yang berada di daerah perbukitan dengan jaringan irigasi terbatas. Air cepat habis, sementara hujan belum tentu turun. Akibatnya, banyak petani harus menunggu giliran mendapatkan aliran air untuk mengolah sawah.
Sebagian bahkan terpaksa menunda masa tanam karena khawatir mengalami kekurangan air pada fase pertumbuhan tanaman.
Di tengah ketidakpastian itu, kabar mengenai ancaman El Nino ekstrem yang populer disebut “El Nino Godzilla” semakin menambah kekhawatiran. Namun ironisnya, sebagian petani hanya mengetahui informasi tersebut dari media sosial maupun pemberitaan di media massa.
Baca Juga:Usai Kepastian Hukum, Farhan Ajak Semua Pihak Fokus Bangun BandungPemotor Tewas Usai Tabrak Truk Mogok di Gunung Putri Bogor
“Kalau soal cuaca ekstrem, kami tahunya dari berita saja. Penyuluh pertanian sekarang jarang datang ke kampung. Jadi informasi yang kami dapat ya dari kabar yang beredar,” ujarnya.
Bagi Mukhlis dan ribuan petani lainnya, musim tanam tahun ini ibarat sebuah pertaruhan yang penuh ketidakpastian. Air belum tentu tersedia, pupuk belum tentu didapat, sementara cuaca semakin sulit diprediksi.
