JABAR EKSPRES – Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi terus memperkuat upaya penanganan persoalan sampah melalui kolaborasi lintas sektor dengan melibatkan dunia pendidikan. Bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, sebanyak 94 sekolah didorong menjadi motor penggerak perubahan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah sejak usia dini.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk mengurangi volume sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sekaligus menanamkan kesadaran lingkungan kepada para pelajar.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cimahi, Chanifah Listyarini, mengatakan tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini menjadi pengingat bahwa persoalan lingkungan tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja.
Baca Juga:Produksi Sampah Capai 250 Ton per Hari, Cimahi Siapkan Strategi Baru Pengolahan SampahNgatiyana Akui Pengolahan Sampah Cimahi Belum Maksimal, TPST Santiong Segera Ganti Mesin
Menurutnya, dibutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat untuk menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perubahan iklim hingga pengelolaan sampah yang masih menjadi isu utama di Kota Cimahi.
“Harapan kami, melalui kolaborasi multisektor dan multiaktor, berbagai permasalahan lingkungan yang ada di Kota Cimahi dapat diselesaikan secara bersama-sama. Saat ini salah satu isu utama yang kita hadapi adalah pengelolaan sampah,” ujar Chanifah, Senin (8/6/2026).
Sebagai tindak lanjut, DLH Kota Cimahi menggandeng seluruh sekolah untuk menjalankan program edukasi sekaligus aksi nyata lingkungan. Salah satu program yang dikembangkan adalah mengajak siswa mengumpulkan sampah anorganik bernilai ekonomi atau high value waste agar tidak berakhir di tempat sampah maupun TPA.
Program tersebut sebenarnya telah mulai diterapkan pada bulan Ramadan lalu. Hasilnya dinilai cukup menggembirakan karena sekolah-sekolah yang terlibat mampu mengumpulkan hampir empat ton sampah yang masih memiliki nilai jual dan dapat didaur ulang.
“Keberhasilan ini menjadi modal bagi kami untuk memperluas gerakan. Hari ini sebanyak 94 sekolah yang hadir akan melaksanakan kegiatan clean action dan ke depan diharapkan terus menggerakkan berbagai aktivitas penanganan sampah di lingkungan sekolah maupun masyarakat,” katanya.
Dalam pelaksanaannya, para siswa didorong untuk membawa sampah anorganik dari rumah secara rutin, baik satu hingga dua kali dalam sepekan. Sampah yang dikumpulkan mencakup botol plastik, kardus, kertas, serta berbagai material lain yang masih memiliki nilai ekonomi.
