Rencana relokasi ini juga memunculkan perdebatan mengenai keberadaan SDN Pambudi Dharma yang lebih dahulu berdiri dibandingkan TPST Sentiong.
Menanggapi hal itu, Nana menilai pemerintah perlu mencari keseimbangan antara kepentingan pendidikan dan kebutuhan pengelolaan sampah yang sama-sama memiliki fungsi strategis bagi masyarakat.
Menurut dia, TPST Sentiong merupakan salah satu fasilitas penting yang sebelumnya memperoleh dukungan pendanaan besar, termasuk bantuan dari lembaga internasional.
Baca Juga:Usai Kepastian Hukum, Farhan Ajak Semua Pihak Fokus Bangun BandungPemotor Tewas Usai Tabrak Truk Mogok di Gunung Putri Bogor
“Kita harus melihat semua kebijakan secara utuh. TPST ini juga merupakan fasilitas penting yang dulu mendapat bantuan cukup besar, termasuk dari Bank Dunia sebesar Rp35 miliar. Karena itu pemerintah berupaya agar pengelolaan sampah tetap berjalan, sementara kebutuhan pendidikan juga tetap terpenuhi melalui penyediaan lokasi sekolah yang lebih layak,” ungkapnya.
Meski demikian, Nana menegaskan kepentingan siswa tetap menjadi pertimbangan utama dalam kebijakan relokasi tersebut.
Sementara itu, terkait rencana pemanfaatan bangunan maupun lahan SDN Pambudi Dharma setelah proses relokasi selesai, ia menyebutkan pembahasannya masih berada dalam tahap kajian dan menjadi kewenangan Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) Kota Cimahi.
“Untuk konsep pemanfaatan lahan atau bangunan setelah sekolah direlokasi, itu masih dalam kajian dan menjadi ranah perencanaan pembangunan di Bappelitbangda,” katanya.
Di sisi lain, rencana pemindahan sekolah turut memunculkan kekhawatiran sebagian siswa terkait jarak tempuh menuju lokasi baru, terutama bagi mereka yang tidak memiliki akses transportasi.
Nana menilai lokasi yang sedang direncanakan masih berada dalam radius yang relatif terjangkau dari kawasan permukiman. Ia juga mengaitkan hal tersebut dengan arahan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang mendorong kebiasaan berjalan kaki ke sekolah sebagai bagian dari pembentukan karakter sekaligus pola hidup sehat bagi pelajar.
“Kalau melihat kondisi wilayah, jaraknya tidak terlalu jauh, mungkin sekitar 500 hingga 800 meter dari permukiman terdekat. Saya kira itu masih memungkinkan ditempuh dengan berjalan kaki,” tuturnya.
Baca Juga:Kesal Tak Bertemu Pengacara, Pria di Taraju Ngamuk hingga Dobrak Rumah dan Rusak PropertiKomisaris Pertamina Sidak SPBU di Bali, Pastikan Stok BBM dan Pelayanan Sesuai Standar
Pemkot Cimahi berharap sekolah baru nantinya mampu menghadirkan lingkungan belajar yang lebih sehat, aman, dan nyaman dibanding lokasi saat ini yang berdekatan dengan fasilitas pengolahan sampah.
