Perdebatan LGBT Kembali Memanas, Golkar Soroti Dampak Media Digital

Perdebatan LGBT Kembali Memanas, Golkar Soroti Dampak Media Digital
Ilustrasi LGBTQ. Dok. Pexels
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Perdebatan mengenai isu LGBT kembali mengemuka di ruang publik seiring derasnya arus budaya global dan perkembangan media digital. Perbedaan pandangan yang muncul di tengah masyarakat dinilai sebagai sesuatu yang wajar dalam negara majemuk seperti Indonesia.

Namun, situasi tersebut diingatkan agar tidak berkembang menjadi konflik sosial maupun saling serang antarkelompok masyarakat.

Dewan Etik DPP Partai Golkar, Faisal Haris, menilai isu LGBT merupakan persoalan yang sensitif karena berkaitan langsung dengan nilai agama, budaya, serta norma sosial yang hidup di tengah masyarakat Indonesia.

Baca Juga:Ngeri! King Kobra Masuk ke Halaman Rumah Warga di Tenjo Bogor, Evakuasi Damkar Berlangsung 1,5 JamJateng Genjot Investasi EBT dan Pengelolaan Sampah, Ahmad Luthfi Tawarkan ke Para Pengusaha Tiongkok

“Isu seperti LGBT memang sensitif dan sering menimbulkan perbedaan pendapat di tengah masyarakat Indonesia yang memiliki latar belakang agama, budaya, dan nilai sosial yang kuat,” kata Faisal saat dikonfirmasi, Sabtu (23/5/2026).

Menurut dia, perbedaan pandangan terhadap isu sosial semestinya tidak berkembang menjadi ruang permusuhan maupun saling menghina di tengah masyarakat. Karena itu, ia mengingatkan pentingnya menjaga etika dalam menyampaikan pendapat, terutama pada isu yang berkaitan dengan moral dan nilai sosial.

“Dalam ajaran agama maupun etika sosial, menjaga akhlak, menghormati sesama manusia, dan menghindari penghinaan adalah hal yang penting,” ujarnya.

Faisal menegaskan, masyarakat tetap memiliki hak untuk menyampaikan sikap maupun pandangan secara tegas. Meski demikian, penyampaian pendapat harus dilakukan secara santun dan tidak merendahkan martabat pihak lain.

“Menyampaikan pendapat boleh dilakukan dengan tegas dan jelas, tetapi tetap santun, tidak provokatif, dan tidak merendahkan martabat orang lain,” ungkapnya.

Ia juga menekankan pentingnya pendekatan yang lebih edukatif dalam menghadapi perubahan sosial yang berkembang di masyarakat. Menurutnya, nasihat maupun pandangan moral akan lebih efektif bila disampaikan melalui keteladanan, kesabaran, dan pendekatan yang bijak.

“Nasihat yang baik akan lebih bermanfaat bila disampaikan dengan hikmah, kesabaran, dan keteladanan,” tuturnya.

Baca Juga:Sindikat Penyalahgunaan BBM Subsidi di Bogor Raup Untung Rp6,9 Miliar, Polisi Bongkar Peran Oknum SPBUGuru PPPK Paruh Waktu di Tasikmalaya Kembali Menanti Gaji, Pembayaran Mei-Juni Diundur hingga Juli

Selain itu, Faisal menilai penguatan pendidikan moral dan peran keluarga menjadi faktor penting dalam membangun karakter generasi muda di tengah derasnya pengaruh media digital dan budaya global.

Perkembangan teknologi informasi saat ini, kata dia, membawa tantangan besar terhadap pembentukan pola pikir dan perilaku anak muda.

0 Komentar