JABAR EKSPRES – Perum Bulog Jawa Barat menyatakan Indonesia tidak lagi melakukan impor beras sejak Januari 2025.
Klaim itu disampaikan dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Peran Kampus dalam Mewujudkan Swasembada Pangan Berkelanjutan untuk Cadangan Pangan Pemerintah di Gudang Bulog Utama, Jalan Mahar Martanegara, Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Sabtu, 23 Mei 2026.
Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah perwakilan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kota Bandung, di antaranya Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), perguruan tinggi Muhammadiyah, dan kampus lainnya. Diskusi difokuskan pada isu ketahanan pangan dan swasembada beras nasional.
Baca Juga:PGN Garap Studi Ekosistem CCS dan Transportasi CO₂, Dukung Pengembangan Amonia Rendah KarbonDampingi Prabowo Panen Raya, Ahmad Luthfi Sebut Budidaya Udang Memiliki Prospek Bagus
Direktur Utama Bulog Jawa Barat, Ahmad Rizal Ramdhani, mengatakan forum itu sengaja digelar untuk menunjukkan kepada kalangan mahasiswa bahwa program swasembada pangan yang selama ini digaungkan pemerintah mulai terlihat hasilnya.
“Sekarang Bulog betul-betul swasembada pangan. Stok sampai hari ini mencapai 5,37 juta ton, hampir 5,38 juta ton,” kata Ahmad kepada wartawan.
Menurut dia, angka tersebut menjadi cadangan beras tertinggi sepanjang sejarah Indonesia setelah merdeka. Dengan jumlah stok itu, Bulog meyakini ketersediaan pangan nasional masih aman hingga pertengahan 2027.
“Ini luar biasa, tertinggi dalam sejarah Indonesia merdeka. Stok ini sangat mampu menjamin ketersediaan pangan sampai tahun 2027 nanti di pertengahan,” ujarnya.
Ahmad juga menegaskan Bulog sudah tidak lagi mendatangkan beras dari luar negeri (impor) sejak awal 2025. Padahal, pada 2023 hingga 2024, volume impor beras nasional sempat mencapai jutaan ton.
“Kalau impor, sekarang sudah tidak ada lagi. Sejak Januari 2025 Bulog tidak impor beras lagi. Dulu, tahun 2023 sampai 2024, impor Bulog mencapai sekitar 7 juta ton,” katanya.
Untuk memenuhi kebutuhan stok di wilayah Jawa Barat, Bulog menyerap gabah dan beras dari sejumlah daerah sentra produksi seperti Bandung, Tasikmalaya, Cianjur, hingga Sumedang.
Baca Juga:Indonesia Bidik Pasar Amerika Latin, Ekspor Nonmigas ke Meksiko Terus DiperkuatFokus Tekan Risiko Kecelakaan KA, Prabowo Gelontorkan Rp4 Triliun untuk Perlintasan dan Flyover
“Sebagian juga dari Cianjur. Masih dalam lingkup Jawa Barat sesuai area layanan kami, Bandung dan sekitarnya,” ujar Ahmad.
Ia menyebut kondisi stok yang melimpah menjadi penting di tengah situasi global yang dinilai sedang tidak menentu. Perubahan iklim hingga gangguan rantai pasok pangan dunia disebut menjadi tantangan yang perlu diantisipasi pemerintah.
