KBM Terganggu Bau Menyengat, Retakan Bangunan SDN Pambudi Dharma Kian Parah Akibat TPST Sentiong

KBM Terganggu Bau Menyengat, Retakan Bangunan SDN Pambudi Dharma Kian Parah Akibat TPST Sentiong
Sejumlah Siswa SDN Pambudi Dharma saat Beraktivitas di Sekolah (Mong)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Aktivitas Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Sentiong di Kota Cimahi kini menjadi sorotan serius setelah dampaknya dirasakan langsung oleh siswa dan tenaga pendidik di SDN Pambudi Dharma.

Bau sampah menyengat yang muncul hampir setiap hari hingga getaran mesin pengolahan yang memicu retakan bangunan sekolah dinilai mengganggu kegiatan belajar mengajar (KBM) dan berpotensi mengancam kesehatan serta keselamatan warga sekolah.

Pemerintah Kota Cimahi pun memastikan relokasi sekolah akan segera dilakukan sebagai solusi jangka panjang untuk menghindari dampak operasional TPST terhadap lingkungan pendidikan.

Baca Juga:DPKP Cimahi Optimistis Program Rutilahu 2026 Tercapai Sesuai TargetSendratari Sangkuriang Sanggar Mutiara Cimahi Memukau Ribuan Penonton di TMII

Kepala SDN Pambudi Dharma, Adi Sofyadi Sulaeman, mengatakan persoalan paling dirasakan sejak TPST beroperasi adalah aroma sampah yang intens muncul setiap hari dan getaran mesin pengolahan yang terasa hingga ke ruang kelas maupun ruang guru.

“Bau sampah itu intens terasa setiap hari. Memang selama saya menjabat belum ada siswa yang sampai sakit akibat dampak tersebut, tapi kami khawatir jika terus berlangsung bisa berdampak terhadap kesehatan siswa dan warga sekolah di masa mendatang,” ujar Adi saat ditemui, Rabu (20/5/2026).

Menurutnya, persoalan tidak hanya sebatas kenyamanan belajar. Getaran dari mesin pengolahan sampah juga mulai memunculkan kekhawatiran terhadap kondisi fisik bangunan sekolah.

“Kalau di ruangan saya getarannya terasa sampai kaca bergetar. Kami khawatir berdampak terhadap bangunan sekolah. Indikasinya sudah terlihat dari retakan-retakan pada bangunan sekolah termasuk mushola,” katanya.

Adi mengungkapkan, keluhan datang dari berbagai pihak, mulai dari guru, siswa hingga orang tua murid. Aroma sampah disebut semakin menyengat ketika volume sampah meningkat, terutama usai hujan turun.

“Anak-anak sering terganggu bau menyengat apalagi disaat mereka sedang makan MBG. Karena memang kadang baunya sangat menyengat. Walaupun kami mungkin sudah mulai terbiasa, ada saat-saat di mana kami juga tidak kuat mencium bau sampah itu,” ungkapnya.

Situasi tersebut dinilai semakin mengkhawatirkan karena lingkungan sekolah seharusnya menjadi ruang aman dan nyaman bagi proses belajar siswa. Kondisi itu pula yang membuat rencana relokasi sekolah kini dipercepat oleh Pemkot Cimahi.

0 Komentar