JABAR EKSPRES – Di tengah padatnya agenda seni budaya di ibu kota, panggung Taman Mini Indonesia Indah (TMII) kembali menjadi ruang pertemuan antara tradisi dan penonton urban. Pada 17 Mei 2026 sore, Sendratari Sangkuriang tampil dan menyedot perhatian ratusan hingga hampir seribu penonton yang memadati area pertunjukan.
Legenda Sunda yang telah lama hidup dalam ingatan kolektif itu dihidupkan kembali melalui gerak tari, musik, dan dramatika panggung. Ketiganya berpadu dalam satu alur yang membuat suasana pertunjukan terasa padat, hangat, dan berlapis.
Tepuk tangan panjang yang pecah di akhir pementasan menjadi penanda bagaimana cerita lama masih memiliki daya resonansi di tengah audiens hari ini.
Baca Juga:Dua Maling Gasak Sepeda Motor di Gunung Putri Bogor, Lepaskan Tembakan Saat KaburSoal Ulat di Menu MBG, Komisi IV DPRD Tasikmalaya: Mengecewakan! Makan Bergizi Tapi Tidak Higienis
Kerumunan penonton yang memenuhi ruang pertunjukan justru menghadirkan efek tersendiri. Riuh suara manusia, sorot lampu panggung, dan ritme musik tradisional membuat kisah Sangkuriang seolah tidak lagi sekadar cerita masa lalu, melainkan hadir kembali sebagai pengalaman bersama yang hidup di depan mata.
Sebagian larut dalam cerita, sebagian lain mungkin sekadar menikmati visual pertunjukan. Namun, pada titik tertentu, sendratari ini seperti membuka ruang ingatan kolektif yaitu tentang legenda, tentang asal-usul, dan tentang bagaimana cerita-cerita lama terus diwariskan dalam bentuk yang selalu berubah.
Di balik panggung, proses kreatif tidak berlangsung singkat. Rombongan Sanggar Tari Mutiara Cimahi menjalani sekitar enam kali sesi latihan sebelum akhirnya tampil di TMII. Ini bukan kali pertama mereka naik panggung di lokasi yang sama, sebuah pengalaman yang membuat kesiapan mereka disebut lebih matang dibanding sebelumnya.
Bagi Syntya Marlina, founder sekaligus koreografer sanggar tersebut, panggung bukan sekadar ruang tampil, melainkan ruang uji keberanian dan eksplorasi. Ia menyebut penampilan kali ini menghadirkan warna yang berbeda dibanding pementasan sebelumnya.
“Baik dari propertinya, kemudian kita ada tambahan fire dance nya, banyak motif-motif baru dalam koreografinya,” ujarnya pada Jabar Ekspres, Rabu (20/5/26).
Menurut Syntya, tantangan utama dalam sebuah pertunjukan bukan terletak pada koreografi semata, melainkan pada bagaimana para penari membangun keterhubungan emosional di atas panggung. Kekompakan teknis saja tidak cukup jika tidak disertai penjiwaan yang utuh.
