JABAR EKSPRES — Ketegangan pecah di kawasan Perkebunan Teh Malabar, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jumat (6/11/2026).
Ribuan pekerja perkebunan PTPN I Regional 2 mendatangi Blok Cipicung, Kampung Cinyiruan, Afdeling Kertamanah, guna menghadang dugaan penyerobotan lahan milik negara oleh kelompok masyarakat.
Aksi ini dipicu oleh aktivitas Aliansi Petani Pangalengan (APP) yang berafiliasi dengan Serikat Petani Pasundan (SPP). Kelompok ini mendirikan kerangka bangunan keagamaan dan pos sekretariat di area perkebunan aktif.
Baca Juga:Hakim Bekukan Aktivitas di Lahan Teh Pangalengan, Sengketa Petani vs PTPN Masuk Fase PenentuanDedi Mulyadi Luapkan Kekecewaan ke PTPN, Soroti Alih Fungsi Lahan
Manager Kebun Malabar PTPN I Regional 2, Heru Supriadi, menegaskan aksi massa buruh memuncak karena mata pencaharian mereka terancam.
“Sebenarnya saya sudah beberapa kali bilang kepada aparat penegak hukum bahwa jika kegiatan APP atau SPP ini terus berlangsung di Kebun Malabar, saya tidak akan bisa menahan jika serikat pekerja bergerak,” kata Heru.
“Kalau manajemen pasti selalu mengedepankan prosedur. Tetapi serikat pekerja akan mengedepankan bagaimana hak hidup anggotanya tidak terganggu,” lanjutnya.
Dari total luasan Perkebunan Malabar sekitar 6.200 hektare, PTPN mengidentifikasi setidaknya 200 hektare lahan kebun teh telah rusak akibat perambahan berkedok narasi rakyat.
“Mereka menyerobot lahan negara dengan mengatasnamakan kepentingan rakyat. Namun, ini merupakan persoalan serius terhadap lahan milik negara dan tidak bisa terus dibiarkan,” tegas Heru.
“Kami juga menuntut aparat penegak hukum bertindak tegas,” tambahnya.
Massa pekerja mempretensikan kemarahan dengan mencabut puluhan bendera serta spanduk organisasi APP dan SPP yang dipasang tanpa izin.
“Meski banyak anggota serikat pekerja yang sudah greget dan kecewa dengan aksi mereka yang melakukan perusakan, aksi hari ini tetap mengedepankan kondusivitas,” ujar Heru.
Baca Juga:Enam Orang Jadi Tersangka Perusakan Kebun Teh PTPN di PangalenganPTPN Bantah Alih Fungsi Lahan di Pangalengan, Tegaskan HGU Sedang Diperpanjang
Ketegangan yang berlangsung sejak pukul 09.00 WIB berhasil diredam oleh pengamanan kepolisian hingga massa membubarkan diri pukul 11.00 WIB.
Kapolsek Pangalengan, Kompol Tedi Risman, memastikan tidak ada bentrokan fisik selama penyampaian aspirasi berlangsung.
“Alhamdulillah situasi dan kondisi tetap kondusif. Kedua belah pihak dapat menahan diri sehingga tidak terjadi kericuhan,” kata Tedi.
“Kami dari pihak kepolisian melakukan pengamanan dan aksi mereka berjalan dengan tertib dan terkendali,” sambungnya.
Konflik mereda setelah PTPN I Regional 2 memasang papan penegasan aset negara di area Blok Cipicung. Merespons hal tersebut, puluhan anggota kelompok perambah akhirnya melunak dan bersedia membatalkan aktivitas.
