Hadapi Disrupsi Digital, KPID Jabar Gandeng 224 PTS Jaga Ekosistem Penyiaran Sehat

Ketua KPID Jabar Adiyana Slamet (baju merah) usai membangun kolaborasi dengan PTS, Rabu (20/5). (son)
Ketua KPID Jabar Adiyana Slamet (baju merah) usai membangun kolaborasi dengan PTS, Rabu (20/5). (son)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat menggandeng ratusan perguruan tinggi swasta (PTS) untuk memperkuat ekosistem penyiaran sehat di tengah derasnya disrupsi digital dan perubahan pola konsumsi informasi masyarakat.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) bersama lebih dari 224 PTS yang tergabung dalam Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Wilayah Jawa Barat, Rabu (20/5).

Ketua KPID Jawa Barat Adiyana Slamet mengatakan, meski terjadi pergeseran perilaku masyarakat akibat perkembangan teknologi digital, televisi dan radio masih tetap memiliki ruang di tengah masyarakat.

Baca Juga:Sokoguru Policy Forum Bahas Strategi Ketahanan dan Transisi Energi NasionalDua Maling Gasak Sepeda Motor di Gunung Putri Bogor, Lepaskan Tembakan Saat Kabur

Berdasarkan data riset KPID Jabar, televisi masih ditonton oleh 85,3 persen masyarakat dan radio sebesar 55,3 persen. Sementara media berbasis internet berada di posisi tertinggi dengan angka mencapai 99 persen.

“Menurut kami lembaga penyiaran tidak ditinggalkan, hanya memang perilaku menonton masyarakat bergeser. Jadi adaptif itu wajib,” terangnya selepas kegiatan di UNIKOM Bandung itu.

Menurutnya, kolaborasi dengan dunia kampus menjadi langkah strategis untuk membangun hubungan mutualisme dalam menjaga kualitas penyiaran di Jawa Barat.

Melalui kerja sama tersebut, mahasiswa dan civitas akademika akan mendapat ruang riset, pengabdian masyarakat, hingga penguatan pendidikan di bidang penyiaran dan media.

Adiyana menegaskan, lembaga penyiaran harus mampu menjadi benteng menghadapi derasnya arus informasi tanpa filter di ruang digital.

“Apalagi ruang tanpa regulasi itu potensi juga mengancam psikologi dan ketahanan bangsa. Lembaga penyiaran harus hadir sebagai penahan laju disrupsi teknologi yang membahayakan warga Jawa Barat dan Indonesia,” cetusnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman menekankan pentingnya kemampuan adaptasi lembaga penyiaran terhadap perubahan zaman, terutama karena dominasi generasi muda seperti Gen Z dan milenial yang kini lebih banyak mengakses informasi melalui media digital dan media sosial.

“Adaptif itu penting, sesuai dengan dinamika perkembangan zaman,” katanya.

Baca Juga:Soal Ulat di Menu MBG, Komisi IV DPRD Tasikmalaya: Mengecewakan! Makan Bergizi Tapi Tidak HigienisPermudah Akses Masyarakat, Pemkab Tasikmalaya Wujudkan Transformasi Digital

Herman juga berharap konten penyiaran tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga memiliki nilai edukasi dan tuntunan bagi masyarakat.

“Artinya bukan hanya tontonan, tapi tuntunannya,” terangnya.

Ketua APTISI Jawa Barat Eddy Soeryanto Soegoto menyambut positif kerja sama tersebut. Ia menyebut APTISI Jawa Barat memiliki sekitar 350 perguruan tinggi swasta yang siap mendukung penguatan ekosistem penyiaran nasional.

0 Komentar