JABAR EKSPRES – Wacana penutupan SDN Baros Mandiri 7 di Jalan H. Haris, Baros, Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi, memicu penolakan dari komite sekolah dan wali murid.
Meski jumlah siswa disebut menurun, pihak komite menilai kondisi tersebut belum menjadi alasan kuat untuk menghentikan operasional sekolah yang selama ini masih berjalan dengan jumlah peserta didik yang dinilai layak.
Selain itu, rencana tersebut juga dianggap berpotensi mengganggu kenyamanan belajar siswa serta mengabaikan jejak prestasi para alumni sekolah tersebut.
Baca Juga:Di Hari Bumi, Taj Yasin Minta Percepatan Transisi Energi Baru Terbarukan Pertamina Goes to Campus 2026 Jadi Wadah Mahasiswa Cetak Inovator dan Pemimpin Energi Masa Depan
Ketua Komite SDN Baros Mandiri 7, Wulan Widhatul Ummah, mengatakan langkah penutupan sekolah dinilai tergesa-gesa dan berisiko menimbulkan dampak psikologis bagi peserta didik.
Ia juga menegaskan bahwa prestasi para alumni menjadi bukti kualitas sekolah yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
“Langkah pemutusan sekolah dinilai terlalu terburu-buru, berisiko mengganggu kondisi psikologis peserta didik, serta mengabaikan rekam jejak prestasi alumni yang mampu bersaing hingga tingkat internasional,” kata Ketua Komite SDN Baros Mandiri 7, Wulan Widhatul Ummah saat ditemui di sekolah, Jum’at (15/5/2026).
Wulan mengungkapkan, hasil rapat sebelumnya dengan Dinas Pendidikan sejatinya baru sebatas pembahasan awal. Namun, sejumlah opsi yang beredar justru membuat pihak sekolah dan orang tua merasa resah.
“Jadi malah ada rencana pembubaran, pemecahan jenjang kelas, hingga penggabungan SDN BM 7 ke SDN Baros Mandiri 3,” ungkapnya.
Menurut Wulan, alasan penurunan jumlah siswa kerap dijadikan dasar untuk wacana tersebut.
Padahal, dari sisi jumlah rombongan belajar dan isi kelas, SDN Baros Mandiri 7 masih dinilai memenuhi standar operasional yang wajar.
Baca Juga:Prodi KPI UNIK Cipasung Bekali Mahasiswa Skill Jurnalistik Profesional175 Calon Haji Kabupaten Tasikmalaya Kloter 29 Siap Diberangkatkan ke Tanah Suci
Saat ini, kata Wulan, elas yang sebelumnya berjumlah dua disebut berubah menjadi satu kelas per jenjang, namun isi setiap kelas masih berada di kisaran 28 hingga 32 siswa.
“Meski demikian, setiap kelas masih berisi 28 hingga 32 siswa, angka yang dinilai masih layak dan cukup untuk berjalan efektif,” jelasnya.
Ia juga mempertanyakan mengapa SDN Baros Mandiri 7 yang justru menjadi sasaran penataan.
Menurutnya, ada sekolah lain di wilayah yang sama dengan jumlah siswa lebih sedikit, tetapi tidak ikut masuk dalam wacana penutupan.
