“Kami mempertanyakan mengapa sekolah ini yang menjadi sasaran, padahal sekolah lain di wilayah yang sama jumlah siswanya justru lebih sedikit namun tidak tersentuh rencana penutupan,” tuturnya.
Selain persoalan jumlah siswa, Wulan menyoroti dampak psikologis yang mungkin timbul jika sekolah dipindahkan atau digabungkan.
Ia menyebut, anak-anak saat ini cenderung lebih rentan terhadap perubahan mendadak dalam lingkungan belajar.
Baca Juga:Di Hari Bumi, Taj Yasin Minta Percepatan Transisi Energi Baru Terbarukan Pertamina Goes to Campus 2026 Jadi Wadah Mahasiswa Cetak Inovator dan Pemimpin Energi Masa Depan
“Perubahan mendadak seperti pemindahan sekolah atau penggabungan dikhawatirkan mengganggu kenyamanan dan proses belajar siswa,” ujarnya.
Wulan menyebut, berdasarkan penjelasan yang sudah disampaikan, Dinas Pendidikan disebut bersikap kooperatif dan sepakat menunda keputusan. Rencana itu, kata dia, akan kembali dibahas dalam rapat tim teknis berikutnya.
“Tapi sampai saat ini, belum ada keputusan akhir apakah sekolah ini tetap beroperasi penuh, hanya melayani kelas atas, atau dibuka kembali penerimaan siswa baru,” paparnya.
Di sisi lain, tudingan bahwa sekolah ini minim prestasi juga dibantah. Wulan menegaskan, meski tidak selalu menonjol saat masih duduk di bangku SD, banyak alumni SDN Baros Mandiri 7 yang justru berhasil mencatat prestasi ketika melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
Salah satu contoh yang ia sebutkan adalah alumni sekolah tersebut yang mampu mengharumkan nama SMP Negeri 2 Cimahi dalam ajang sepak bola tingkat internasional di Swedia.
Tak hanya itu, ada pula lulusan yang berhasil meraih peringkat tertinggi di sekolah lanjutan meski harus bersaing dengan siswa dari sekolah dasar yang memiliki nama besar.
“Di bidang akademik, ada pula lulusan yang mampu bersaing dan menduduki peringkat tertinggi di sekolah lanjutan meski bersaing dengan siswa dari sekolah dasar yang memiliki nama besar,” ungkapnya.
Baca Juga:Prodi KPI UNIK Cipasung Bekali Mahasiswa Skill Jurnalistik Profesional175 Calon Haji Kabupaten Tasikmalaya Kloter 29 Siap Diberangkatkan ke Tanah Suci
“Keberhasilan siswa lebih ditentukan oleh pola asuh dan pendidikan di rumah, bukan semata-mata nama besar sekolah asal,” sambungnya.
Wulan menambahkan, semangat untuk mempertahankan sekolah ini juga terlihat dari para wali murid yang tetap memberi dukungan. Sejumlah orang tua, katanya, bahkan siap ikut membantu promosi sekolah agar minat masyarakat kembali meningkat.
“Langkah yang kini ditempuh kami akan dilakukan dengan mengedukasi publik lewat media sosial untuk menggalang dukungan, sambil menunggu keputusan resmi pemerintah,” tandasnya. (Mong)
