Melawan Gulma Seorang Diri, Mang Kiclik Jaga Nadi Kehidupan Waduk Saguling

Melawan Gulma Seorang Diri, Mang Kiclik Jaga Nadi Kehidupan Waduk Saguling
Melawan Gulma Seorang Diri, Mang Kiclik Jaga Nadi Kehidupan Waduk Saguling
0 Komentar

Taufik tahu, upayanya nyaris tak sebanding dengan luas perairan yang harus diselamatkan. Setiap rumpun yang ia tarik seolah tak pernah ada habisnya. Hari ini dibersihkan, esok tumbuh kembali. Namun ia tetap datang. Menurutnya, diam justru membuat keadaan semakin buruk.

Risiko yang dihadapi pun bukan main. Di bawah hamparan eceng gondok, benda-benda tajam kerap tersembunyi. Kaki dan tangannya beberapa kali terluka saat menginjak pecahan atau ranting yang tak terlihat. Bahkan, ia mengaku sudah lima kali dipatuk ular yang bersembunyi di sela tanaman air. Beruntung, semuanya bukan ular berbisa.

Namun luka dan patukan itu tak pernah membuatnya menyerah. Sore demi sore, saat sebagian orang pulang untuk beristirahat, Taufik justru memilih masuk ke air. Baginya, membersihkan waduk bukan soal siapa yang seharusnya bertanggung jawab. Ini soal siapa yang mau mulai bergerak.

Baca Juga:20 Ribu Kendaraan Lintasi Jalur Puncak Bogor, One Way ke Arah Jakarta DiberlakukanAnak Dirawat karena Demam Tinggi, Intan Rasakan Manfaat Nyata Program JKN

Di tepian Saguling, di antara bau lumpur dan tumpukan gulma yang mengering, Mang Kiclik menjalankan perjuangan yang sunyi. Tanpa sorotan, tanpa bayaran, dan tanpa jaminan hasilnya akan segera terlihat.

Taufik hanya percaya satu hal satu orang yang bergerak mungkin bisa menyalakan kepedulian orang lain.

“Kalau semua menunggu orang lain, eceng gondok akan terus menutup waduk ini. Saya cuma berharap ada yang mau ikut peduli dan turun langsung bersama-sama,” ucapnya. (Wit)

Laman:

1 2
0 Komentar