JABAR EKSPRES – Langit di atas Waduk Saguling mulai berubah jingga ketika seorang pria berkaus lusuh melangkah perlahan ke tepian air.
Tak ada sepatu bot, tak ada perahu mesin, apalagi alat berat. Hanya sepasang tangan kosong dan tekad yang tak kunjung surut.
Di hadapan hamparan eceng gondok, Taufik Rahmat Wardani memulai rutinitas yang bagi sebagian orang terasa mustahil.
Baca Juga:20 Ribu Kendaraan Lintasi Jalur Puncak Bogor, One Way ke Arah Jakarta DiberlakukanAnak Dirawat karena Demam Tinggi, Intan Rasakan Manfaat Nyata Program JKN
Warga mengenalnya sebagai Mang Kiclik. Setiap sore, pria 33 tahun asal Kampung Bobojong itu turun ke perairan, menerobos gulma yang menghampar rapat seperti karpet hijau raksasa.
Tangannya menarik satu per satu rumpun eceng gondok, menumpuknya di pinggir daratan, lalu kembali menyusuri air yang kian menyempit.
Aktivitas itu bukan pekerjaan baru baginya. Sejak 2017, ia sesekali membersihkan eceng gondok di sekitar waduk. Namun sejak 27 Januari 2025, ia memutuskan menjadikannya rutinitas harian.
Hampir tak ada hari yang ia lewatkan tanpa turun ke air. Dua hingga tiga jam waktunya habis hanya untuk memerangi gulma yang tumbuh tanpa jeda.
Di kawasan blok Ciminyak, Desa Rancapanggung, hingga bawah Jembatan Biru Mukapayung, jejak langkahnya menjadi pemandangan yang akrab.
Setiap hari, sekitar lima kuintal eceng gondok berhasil ia angkat dari permukaan air. Tumpukan tanaman itu lalu difermentasi secara alami di bantaran waduk. Sebagian warga memanfaatkannya kembali sebagai pakan ternak dan pupuk tanaman.
“Awalnya saya lakukan sesekali, tapi sekarang harus setiap hari karena kondisinya makin parah. Perairan makin tertutup, jadi saya merasa harus terus bergerak,” kata Taufik.
Baca Juga:Tiga Tahun Jalani Cuci Darah, Eko Bersyukur Terbantu Program JKNManfaat JKN Dirasakan Nyata, Sarino Akui Berobat Gratis dan Praktis Lewat Mobile JKN
Bagi banyak orang, eceng gondok mungkin sekadar tanaman air liar yang mengganggu pemandangan. Namun bagi Taufik, hamparan hijau itu adalah ancaman nyata.
Ia melihat langsung bagaimana perahu nelayan kesulitan melintas karena jalur air tersumbat. Ruang tangkap ikan menyempit. Di darat, warga mulai terganggu oleh nyamuk yang berkembang biak di sela-sela gulma.
Masalah itu bukan sekadar kekhawatiran pribadi. PLN Indonesia Power UBP Saguling mencatat sekitar 94 hektare dari total 5.600 hektare luas waduk telah tertutup eceng gondok. Angka itu menjadi penanda bahwa persoalan gulma air di Saguling sudah jauh melampaui gangguan biasa.
