Disrupsi Teknologi dan Informasi Mengancam, KPID Edukasi Masyarakat

Disrupsi Teknologi dan Informasi Mengancam, KPID Edukasi Masyarakat
Disrupsi Teknologi dan Informasi Mengancam, KPID Edukasi Masyarakat
0 Komentar

Jabar Ekspres – Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat turut berupaya menyadarkan masyarakat. Hal itu terkait ancaman disrupsi teknologi dan informasi bagi psikologis anak muda.

KPID sempat melakukan riset terkait fenomena itu. Hasilnya cukup mencengangkan.

Riset bertajuk Gen Z Media Habits itu mendapati sebanyak 51,74 persen responden mengonsumsi konten hiburan seperti film, musik, komedi, kuliner, dan fashion sebagai bentuk escapism. Lalu, Sebanyak 68,39 persen responden mengaku mengalami gangguan fokus dan konsentrasi akibat paparan digital.

Dalam riset melibatkan 601 responden usia 15–24 tahun itu juga mendapatkan temuan bahwa sebanyak 52,41 persen responden mengaku kondisi mentalnya terpengaruh. Sementara 50,08 persen mengalami stres akibat konten digital.

Baca Juga:Truk Tangki Air Tabrak 4 Kendaraan di Sentul Bogor, 1 Orang Tewas dan 1 Luka BeratViral Video Nyaris Bentrok Jakmania-Bobotoh di Parung, Polisi Ungkap Pemicu

KPID menyadari bahwa arus informasi ternyata menjadi ancaman serius. Makanya ia berupaya meredam hal tersebut.

Salah satunya dengan dialog edukasi Global Public Forum, Senin (11/5). “Disrupsi teknologi dan informasi ini sudah sangat membahayakan, jadi kami perlu edukasi, ” kata Ketua KPID Jabar Adiyana Slamet di Bandung.

Adiyana melanjutkan, generasi muda sangar berisiko kehilangan karakter akibat dominasi algoritma dan fenomena FOMO. Kondisi tersebut dapat mengubah pola pikir serta perilaku sosial secara signifikan.

“Kalau cara berpikir rusak, maka emosi, cara pandang, dan perilakunya juga akan ikut rusak. Apalagi ini Gen Z,” jelasnya.

Ia menilai negara harus hadir melalui regulasi kuat untuk melindungi generasi muda. Ia menegaskan persoalan ini tidak bisa diserahkan pada mekanisme pengaturan mandiri.

Director Centre for Psychology and Social Health UMS Malaysia, Laila Wati Madlan, mengungkap fenomena tersebht bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga secara global. Penggunaan gawai yang masif telah memicu berbagai gangguan mental, seperti depresi dan kecemasan.

“Ini sebenarnya tak hanya anak muda ya. Semua usia bisa terdampak. Bahkan kehilangan ponsel saja bisa memicu kecemasan yang berlebihan,” cetus Laila. (son)

0 Komentar