Jabar Darurat Kekerasan Anak, Perundungan Jadi Pemicu Tingginya Angka ATS di Sumedang

Seorang pelajar SD berjalan di samping spanduk stop perundungan (bullying). Foto: Dimas Rachmatsyah
Seorang pelajar SD berjalan di samping spanduk stop perundungan (bullying). Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Kasus bullying atau perundungan di lingkungan pendidikan masih marak terjadi di Jawa Barat. Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang memicu tingginya angka anak tidak sekolah (ATS), termasuk di Kabupaten Sumedang yang saat ini mencapai sekitar 10 ribu anak.

Peneliti Pusat Riset Gender dan Anak Universitas Padjadjaran, Antik Bintari, menilai diperlukan kepedulian dari seluruh pihak, mulai dari orang tua, sekolah, pemerintah hingga lingkungan masyarakat untuk menekan angka kekerasan terhadap anak.

“Menurut saya yang pertama adalah mengedukasi semua pihak. Misalnya guru-guru harus memiliki target dari dinas pendidikan. Semua guru wajib ikut pelatihan dan edukasi terkait perlindungan anak,” katanya kepada Jabar Ekspres, Kamis (7/5/2026).

Baca Juga:Kemendikdasmen Kolaborasikan Sejumlah Program dengan DBL Indonesia, Salah Satunya Super TeacherGuru Honorer Tasikmalaya Desak Kejelasan Status dan Gaji, DPRD Siap Dorong ke Pusat

Menurut Antik, edukasi tidak boleh hanya dijadikan kegiatan seremonial. Sebab, berbagai aturan terkait perlindungan anak hingga kini dinilai masih belum dipahami secara menyeluruh oleh masyarakat, termasuk tenaga pendidik.

“Buat saya, intervensinya memang harus langsung dan menyentuh semua pihak. Ada pengawasan di sekolah, pembatasan penggunaan gawai, dan penguatan edukasi kepada anak maupun orang tua,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa langkah paling penting dalam mencegah kekerasan terhadap anak adalah sosialisasi dan edukasi yang dilakukan secara serius dan berkelanjutan.

“Kalau gurunya belum mampu, bisa melibatkan pusat riset gender di kampus, dinas pemberdayaan perempuan, hingga kepolisian melalui unit PPA,” tambahnya.

Berdasarkan data SIMFONI PPA yang diakses Jabar Ekspres pada Rabu (6/5/2026) pukul 17.00 WIB, jumlah kasus kekerasan terhadap anak secara nasional mencapai 21.352 kasus.

Data tersebut didominasi korban perempuan sebanyak 16.136 kasus, sedangkan korban laki-laki mencapai 6.907 kasus. Dari jenjang pendidikan, kasus terbanyak terjadi di tingkat sekolah dasar (SD) dengan total 6.885 kasus.

Sementara untuk tingkat kewilayahan, Jawa Barat tercatat menjadi provinsi dengan jumlah kasus kekerasan terhadap anak tertinggi, yakni lebih dari 2.000 kasus.

Baca Juga:Nyalip dari Kanan, Pemotor Tewas Tabrakan dengan Pikap di CiseengIndonesia Pikat Investor Global, Tawarkan Potensi Besar Hulu Migas dan Kolaborasi Teknologi

Dampak dari kekerasan dan perundungan tersebut dinilai berpengaruh besar terhadap kondisi mental anak hingga membuat mereka enggan bersekolah.

Di Kabupaten Sumedang, tercatat sekitar 10 ribu anak berstatus tidak sekolah berdasarkan data Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang tahun 2026.

0 Komentar