“Karena dengan adanya APSAI, ini bisa nantinya mengintervensi, memonitor dukungan-dukungan para pengusaha terhadap perkembangan anak karena ini jelas,” sambungnya.
Neneng menjelaskan, indikator KLA mencakup berbagai aspek yang saling berkaitan, mulai dari lingkungan sekolah, tempat ibadah, fasilitas kesehatan, hingga ruang publik yang ramah anak.
“Seperti, bagaimana mewujudkan lingkungan sekolah yang ramah anak, tempat ibadah ramah anak, lalu Puskesmas yang ramah anak. Kemudian tempat bermain atau taman yang ramah anak, lalu untuk apa lalu lintas juga yang ramah anak seperti apa. Dan yang pasti, yang harus digarisbawahi adalah terpenuhnya konvensi hak anak itu, hak-hak anak yang harus terpenuhi bagaimana kesejahteraannya dari sisi pendidikan, kesehatan, rasa aman, rasa nyaman,” bebernya.
Baca Juga:DP3AP2KB Cimahi Ungkap Peran Strategis Forum Anak dalam Mewujudkan KLADP3AP2KB Cimahi Dorong Pembinaan Forum Anak di Kelurahan, Fokus Perlindungan dan Karakter Generasi Muda
Ia menekankan, perlindungan terhadap anak harus menjadi prioritas, termasuk memastikan mereka terbebas dari berbagai bentuk ancaman sosial.
“Terbebas dari rasa intimidasi, ketertekanan, eksploitasi. Termasuk dari Disnaker juga salah satu contohnya, misalkan memonitor bagaimana jangan sampai ada terjadi anak tereksploitasi dalam masalah pekerjaan yang belum saatnya bekerja di bawah umur tapi mereka sudah bekerja sehingga sekolahnya terabaikan hak-haknya,” terangnya.
Sementara itu, Pendamping Forum Anak Cimahi, Aisa Holle, mengungkapkan bahwa tantangan lain juga muncul dari sisi internal Forum Anak, terutama dalam menyuarakan aspirasi.
Ia menyebutkan, rendahnya kepercayaan diri anggota serta minimnya pendampingan aktif menjadi kendala yang kerap ditemui. Selain itu, aspirasi anak juga belum sepenuhnya menjadi prioritas di sejumlah pihak.
“Sejauh ini, aspirasi sudah mulai didengar, tapi belum semuanya ditindaklanjuti secara maksimal. Ini jadi PR bersama,” kata Aisa.
Terkait evaluasi dan pengawasan, Aisa menjelaskan bahwa proses tersebut dilakukan secara berkala melalui monitoring kegiatan, laporan program kerja, serta koordinasi dengan pembina dan dinas terkait.
Apabila ditemukan program yang tidak berjalan optimal, sejumlah langkah perbaikan akan dilakukan, mulai dari pembinaan ulang hingga penguatan struktur organisasi.
Baca Juga:Peluang Cuan Besar bagi Indonesia, Barantin Ekspor Langsung Durian Beku ke ChinaHarga Minyakita Naik Tipis, Mendag Klaim Tidak Ada Kelangkaan StokÂ
“Intinya bukan untuk menyalahkan, tapi untuk memperbaiki dan menguatkan Forum Anak agar lebih maksimal,” tandas Aisa. (Mong)
