Produksi Sampah Capai 1.800 Ton per Hari, Bupati Bandung Dorong Inovasi dan Percepat PSEL

Produksi Sampah Capai 1.800 Ton per Hari, Bupati Bandung Dorong Inovasi dan Percepat PSEL
Bupati Bandung Dadang Supriatna saat ditemui di Soreang, Senin (6/4/2026). Foto Agni Ilman Darmawan/Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Bupati Bandung Dadang Supriatna menyoroti lonjakan produksi sampah harian di Kabupaten Bandung yang kini mencapai 1.800 ton per hari. Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan tahun 2020 yang berada di kisaran 1.300 ton.

Dadang mengungkapkan, dari total produksi sampah saat ini, baru sekitar 500 ton yang dapat diolah secara langsung. Artinya, masih terdapat sekitar 1.300 ton sampah yang belum tertangani secara optimal.

“Saya hari ini sedang berpikir tentang sampah di Kabupaten Bandung, ternyata perharinya memproduksi 1.800 ton. Tahun 2020 itu di 1.300 ton, sekarang sudah 1.800 ton. Yang bisa diolah baru 500 ton, artinya masih ada 1.300 ton,” ujar Dadang saat ditemui, Senin (6/4/2026).

Baca Juga:Bupati Bandung Tekankan Pengelolaan Sampah, ASN Diminta Jadi Contoh3 Pekan Tak Diangkut, Gunungan Sampah di Sejumlah Titik Hiasi Kabupaten Bandung 

Ia menjelaskan, sebelumnya sisa sampah yang belum tertangani sempat ditekan hingga sekitar 280 ton. Namun, peningkatan produksi sampah membuat kondisi kembali menjadi tantangan serius, sehingga pemerintah daerah kini menyiapkan berbagai inovasi penanganan.

Salah satu langkah strategis yang tengah didorong adalah pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL).

Dadang menyebut, pihaknya telah berkoordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup terkait lokasi proyek tersebut.

Awalnya, opsi pengembangan berada di kawasan Sarimukti. Namun, berdasarkan komunikasi terbaru dengan pemerintah pusat, lokasi Oxbow Cicukang di Kecamatan Margaasih dinilai lebih memungkinkan untuk dikembangkan.

“Tadi malam ada telepon dari pak menteri, ternyata lebih condong dan setuju di Oxbow Cicukang, Margaasih, yang memang lokasi dan existing-nya sudah berjalan,” katanya.

Menurutnya, lokasi tersebut memiliki keunggulan karena dekat dengan aliran Sungai Citarum yang dapat memenuhi kebutuhan air untuk operasional PSEL.

“PSEL tidak terlepas dari kebutuhan air minimal 1.000 kubik per hari. Kalau di Sarimukti itu jaraknya jauh, hampir 25 kilometer dari Cirata, jadi ini juga jadi kendala,” jelasnya.

Baca Juga:Lonjakan Sampah Pascalebaran di Bandung Capai 1.800 Ton per Hari, Pemkot Masih Cari SolusiDLH Kabupaten Bandung: Sampah di Pinggir Jalan Terus Diangkut, Tapi Kembali Menumpuk

Dalam waktu dekat, Dinas Lingkungan Hidup akan melakukan survei lanjutan untuk memastikan kesiapan lahan yang minimal harus seluas lima hektare.

Di sisi lain, Kang DS sapaan akrabnya juga menginstruksikan para camat hingga kepala desa untuk bergerak cepat menangani persoalan sampah di wilayah masing-masing.

Ia menekankan pentingnya inovasi di tingkat lokal sembari menunggu pembangunan PSEL yang diperkirakan memakan waktu dua hingga tiga tahun.

0 Komentar