JABAR EKSPRES – Pemerintah Kota Bandung menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah usai libur Lebaran 2026. Volume sampah harian meningkat signifikan hingga mendekati 1.800 ton, melampaui kapasitas pengangkutan yang tersedia saat ini.
Kondisi persampahan di Bandung mengalami lonjakan tajam setelah periode libur Lebaran. Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengungkapkan bahwa peningkatan volume sampah mencapai sekitar 20 persen dibandingkan hari biasa.
“Dalam kondisi normal, produksi sampah berada di kisaran 1.500 ton per hari. Namun setelah Lebaran, jumlahnya naik hingga hampir 1.800 ton per hari,” ujarnya pada Kamis (26/3).
Baca Juga:DLH Kabupaten Bandung: Sampah di Pinggir Jalan Terus Diangkut, Tapi Kembali MenumpukSampah Lebaran di Bandung Barat Terkendali, Kenaikan Hanya Tipis 5 Persen
Meski armada pengangkut sampah tetap beroperasi sesuai jadwal, peningkatan volume ini membuat penanganan menjadi tidak optimal. Pola penumpukan pun terjadi berulang setiap hari. Sampah yang diangkut pada pagi hari, kembali menumpuk pada sore hingga malam hari dalam jumlah yang hampir sama.
Menurut Farhan, kondisi tersebut menciptakan siklus yang sulit diputus. Upaya pengangkutan yang dilakukan belum mampu memberikan dampak signifikan dalam mengurangi volume sampah di lapangan.
Saat ini, kapasitas pengangkutan sampah di Bandung hanya mampu menangani sekitar 980 ton per hari. Artinya, masih terdapat sisa sekitar 500 hingga 600 ton sampah yang harus dikelola melalui metode alternatif di luar sistem pengangkutan konvensional.
Menghadapi situasi ini, Pemerintah Kota Bandung tengah menyiapkan sejumlah langkah strategis. Salah satunya adalah pengembangan teknologi pengolahan sampah seperti Refuse Derived Fuel (RDF), program Gaslah, serta penambahan kapasitas insinerator.
”Kami sedang menyiapkan program baru berupa RDF, Gaslah dan penambahan kapasitas insinerator yang dikembangkan agar sistem pengelolaan lebih siap menghadapi lonjakan musiman,” ujarnya.
Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan ketahanan sistem pengelolaan sampah, khususnya dalam menghadapi lonjakan musiman seperti pasca-Lebaran. Selain itu, pemerintah juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mempercepat implementasi solusi berkelanjutan.
Dengan kondisi yang terus berulang setiap tahun, Pemkot Bandung menilai diperlukan perubahan pendekatan yang lebih komprehensif, tidak hanya mengandalkan pengangkutan, tetapi juga pengolahan dan pengurangan sampah dari sumbernya. (Dam)
