Budidaya Maggot BSF Jadi Strategi Atasi Krisis Sampah di Cimahi

Budidaya Maggot BSF Jadi Strategi Atasi Krisis Sampah di Cimahi
Pengembangan Budidaya Larva Lalat Black Soldier Fly (BSF) atau Maggot. (Mong/Jabar Ekspres)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mengakselerasi penanganan sampah organik dengan mengembangkan budidaya larva lalat Black Soldier Fly (BSF) atau maggot, sebagai respons atas tingginya volume sampah rumah tangga dan pasar yang terus membebani Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Program ini mulai diterapkan bertahap di sejumlah wilayah sejak 2026, dengan melibatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam pengelolaan, guna menekan timbunan sampah sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru.

Langkah ini menjadi penting di tengah keterbatasan daya tampung TPA dan meningkatnya produksi sampah organik di kota dengan tiga kecamatan tersebut.

Baca Juga:TPS Ilegal di Cimahi Ditutup, 3,5 Ton Sampah Diangkut dari Pasar RecokSampah Menumpuk di Saluran Air, TPS Ilegal di Cimahi Akhirnya Ditutup!

DLH Cimahi menilai, pendekatan konvensional tidak lagi cukup untuk menjawab persoalan sampah yang kian kompleks, sehingga dibutuhkan inovasi yang berkelanjutan dan berbasis partisipasi publik.

Kepala DLH Kota Cimahi, Chanifah, menjelaskan bahwa pengolahan sampah menggunakan maggot BSF merupakan metode yang efektif dan efisien dalam mengurai limbah organik dalam waktu relatif singkat.

“Pengolahan dengan maggot BSF mampu mengurai sampah organik dalam waktu singkat, dan yang lebih penting, menghasilkan produk bernilai guna seperti pakan ternak berkualitas serta pupuk organik yang dapat digunakan untuk pertanian,” kata Chanifah saat dikonfirmasi, Kamis (2/4/2026).

Menurutnya, bahan baku utama budidaya maggot berasal dari sampah organik rumah tangga dan pasar, dua sumber terbesar penyumbang timbunan sampah di Cimahi. Melalui proses budidaya yang terstandarisasi, limbah tersebut diubah menjadi produk bernilai ekonomi yang dapat dipasarkan.

“Selain membantu mengurangi jumlah sampah yang masuk ke TPA, program ini juga diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi ekonomi lokal,” ujarnya.

Chanifah menambahkan, jika program ini dikembangkan secara optimal dan melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan, potensi kontribusinya terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) terbuka lebar.

“Jika dikembangkan secara optimal dan melibatkan lebih banyak pihak terkait, budidaya maggot berpotensi berkontribusi pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD),” tambahnya.

Baca Juga:Cegah Penumpukan, Cimahi Siapkan Skema Khusus Tangani Sampah Pasca LebaranPasca Lebaran Pemkot Cimahi Liburkan Angkut Sampah Dua Hari, Ini Penyebabnya

Saat ini, sejumlah titik pengolahan maggot telah beroperasi di berbagai wilayah dengan melibatkan kelompok masyarakat dan pengelola sampah lokal. Keterlibatan warga dinilai menjadi kunci keberhasilan program, terutama dalam mendorong perubahan perilaku pengelolaan sampah sejak dari sumbernya.

0 Komentar