JABAR EKSPRES — Rencana Pemerintah Kota Bandung menghadirkan Bus Rapid Transit (BRT) sebagai solusi mengatasi kemacetan menuai beragam tanggapan dari masyarakat.
Sebagian warga menilai kebijakan ini sebagai langkah maju dalam pembenahan transportasi publik, sementara lainnya mengkhawatirkan dampak terhadap kondisi lalu lintas dan mata pencaharian sopir angkutan umum.
Kemacetan yang kian parah di sejumlah ruas jalan utama Kota Bandung menjadi latar belakang munculnya rencana pengadaan BRT.
Baca Juga:Tekanan Geopolitik dan Permintaan Global Dorong Kenaikan Harga Minyak Kelapa Sawit Mentah Jelang Wajib Halal 2026, Pengawasan Produk di Pasar Tradisional Jadi Sorotan
Dengan konsep jalur khusus dan sistem transportasi massal yang terintegrasi, BRT diharapkan mampu mengurangi ketergantungan masyarakat pada kendaraan pribadi.
Farida (25), warga Sukamiskin, menjadi salah satu yang mendukung penuh rencana tersebut. Ia menilai kehadiran BRT dapat menjadi solusi nyata bagi warga yang setiap hari harus berhadapan dengan kemacetan.
“Kalau memang ada jalur khusus dan sistemnya jelas, saya optimis BRT bisa bantu mengurangi macet. Apalagi buat pengguna transportasi umum, pasti lebih cepat dan nyaman,” ujarnya kepada Jabarekspres, Rabu (1/4).
Menurut Farida, selain kenyamanan, faktor keterjangkauan tarif juga menjadi hal penting agar BRT benar-benar diminati masyarakat luas. Ia berharap pemerintah dapat memastikan harga tiket tetap ramah di kantong semua kalangan.
Namun, pandangan berbeda disampaikan Saprudin (36), warga Derwati. Ia mengaku masih meragukan efektivitas BRT jika implementasinya tidak direncanakan dengan matang.
“Kalau jalur khusus BRT mengambil badan jalan yang sudah sempit, justru bisa menambah kemacetan. Apalagi Bandung ini banyak jalan kecil,” katanya.
Saprudin juga menyoroti dampak sosial dari kebijakan tersebut, khususnya terhadap pengemudi angkutan kota (angkot). Ia berharap pemerintah tidak mengabaikan nasib para sopir yang selama ini menggantungkan hidup dari sektor transportasi konvensional.
Baca Juga:Pinjaman dengan Bunga 6 Persen, Kopdes Jadi Senjata Lawan RentenirPeluang Investasi, Forum Bisnis Indonesia-Jepang Hasilkan Komitmen USD 22,6 Miliar
“Harus ada solusi juga untuk sopir angkot. Jangan sampai mereka malah kehilangan pekerjaan,” tambahnya.
Sementara itu, Kurniawati (38), warga Cicadas, memilih bersikap netral namun cenderung mendukung. Ia menilai BRT bisa menjadi solusi jika dirancang dan dijalankan secara matang.
“Saya setuju saja selama perencanaannya jelas dan tidak terburu-buru. Jangan sampai saat pembangunan malah bikin macet lebih parah,” ungkapnya.
