Tekanan Geopolitik dan Permintaan Global Dorong Kenaikan Harga Minyak Kelapa Sawit Mentah 

Tekanan Geopolitik dan Permintaan Global Dorong Kenaikan Harga Minyak Kelapa Sawit
Ilustrasi tumpukan kelapa sawit di perkebunan. (Foto: ANTARA)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Harga minyak kelapa sawit mentah (CPO) kembali menunjukkan tren kenaikan pada April 2026, didorong oleh kombinasi faktor global, terutama dinamika geopolitik dan ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan.

Kementerian Perdagangan menetapkan harga referensi (HR) CPO sebesar 989,63 dolar AS per metrik ton untuk periode 1–30 April 2026. Angka ini naik 5,41 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 938,87 dolar AS per metrik ton.

“Peningkatan ini disebabkan adanya peningkatan permintaan yang tidak diikuti dengan peningkatan suplai akibat penurunan produksi, serta peningkatan harga minyak mentah akibat situasi geopolitik di Timur Tengah,” kata Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Tommy Andana dikutip dari ANTARA, Rabu (1/4/2026).

Baca Juga:Jelang Wajib Halal 2026, Pengawasan Produk di Pasar Tradisional Jadi SorotanPinjaman dengan Bunga 6 Persen, Kopdes Jadi Senjata Lawan Rentenir

Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya tekanan di pasar global. Permintaan yang terus menguat tidak diimbangi dengan produksi yang memadai, sehingga pasokan menjadi lebih ketat.

Di sisi lain, lonjakan harga minyak mentah dunia—yang dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah—turut memberikan efek rambatan terhadap harga CPO.

Seiring dengan kenaikan tersebut, pemerintah menetapkan bea keluar (BK) CPO sebesar 148 dolar AS per metrik ton. Sementara itu, pungutan ekspor (PE) ditetapkan sebesar 123,70 dolar AS per metrik ton atau setara 12,5 persen dari harga referensi.

Penetapan harga ini didasarkan pada rata-rata harga internasional dalam periode 20 Februari hingga 19 Maret 2026. Dalam rentang tersebut, harga CPO tercatat bervariasi di beberapa pasar utama, dengan Indonesia berada di level lebih rendah dibandingkan Malaysia dan pasar Eropa, khususnya Rotterdam.

Sesuai regulasi, apabila terjadi selisih signifikan antar sumber harga global, pemerintah menggunakan pendekatan median untuk menjaga akurasi dan stabilitas dalam penetapan harga referensi.

Selain CPO mentah, pemerintah juga menetapkan bea keluar untuk produk turunan seperti RBD palm olein kemasan kecil (≤25 kg) sebesar 33 dolar AS per metrik ton. Kebijakan ini bertujuan menjaga keseimbangan antara kepentingan ekspor dan kebutuhan domestik.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar CPO semakin sensitif terhadap dinamika global. Ketegangan geopolitik, fluktuasi energi, serta keterbatasan produksi menjadi faktor utama yang akan terus mempengaruhi arah harga komoditas strategis ini ke depan.

0 Komentar